KONGBENG – Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, kembali meneguhkan posisinya sebagai jantung budaya masyarakat adat Kayan lewat perhelatan Festival Budaya Kayan UFAH 2025. Festival ini menampilkan sembilan tarian otentik warisan leluhur Umaq Lekan, yang ditarikan dengan penuh khidmat dan energi di tengah sorak kagum penonton dari berbagai daerah.
Setiap gerak, hentakan, dan irama dalam festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi doa dan syukur yang mengalir dari generasi ke generasi. Di tengah arus modernisasi, masyarakat adat Kayan Umaq Lekan menjadikan festival ini sebagai wujud keteguhan menjaga jati diri, serta ruang untuk merayakan filosofi hidup yang berakar pada alam dan kebersamaan.
Deretan tarian yang disajikan mencerminkan perjalanan spiritual dan keseharian masyarakat adat. Di antaranya Tarian Hudoq Aruq (Bateang Bu-eang) sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, Tarian Hudoq Kitaq yang melambangkan Dewi Padi sebagai sumber kehidupan, serta Tarian Hifan Sau dan Hifan Seang, tari pria dan wanita yang menggambarkan kemenangan dan keharmonisan pasca upacara adat.
Selain itu, Tarian Jat Alat dipersembahkan sebagai simbol kehidupan baru setelah panen, sementara Tarian Hudoq Kap (Kusap Nga-eang) menampilkan ritual sakral dengan topeng kulit kayu khas Kayan. Ada pula Tarian Hudoq Kuhau yang dipercaya mampu mengusir hama dan penyakit tanaman, Tarian Tingeang Urip (Enggang) yang melambangkan kebesaran dan perdamaian, serta Tarian Manuk Inuq, simbol kemakmuran dan keseimbangan hidup.
Keindahan setiap tarian semakin hidup dengan busana adat berwarna cerah, hiasan kepala bulu enggang, serta iringan alat musik tradisional seperti gong dan ketawak yang menggema di udara Miau Baru. Lebih dari sekadar pertunjukan, festival ini adalah perayaan spiritual — menyatukan doa, identitas, dan seni dalam satu harmoni yang agung.
Salah satu tokoh adat menegaskan, pelestarian budaya bukanlah pilihan, melainkan tanggung jawab moral seluruh generasi Kayan.
“Budaya ini adalah identitas kita. Tugas kita menjaga dan mewariskannya agar tidak hilang dimakan zaman,” ujarnya penuh makna.
Bagi masyarakat Miau Baru, Festival UFAH bukan hanya ruang ekspresi budaya, tetapi juga momentum mempererat persaudaraan dan memperkenalkan kekayaan tradisi Kayan kepada publik luas. Pemerintah daerah menilai kegiatan ini berpotensi menjadi magnet wisata budaya baru di Kutai Timur — mendorong pertumbuhan ekonomi desa berbasis kearifan lokal.
Dengan semangat kebersamaan, Festival Budaya UFAH 2025 menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Di Miau Baru, tarian-tarian leluhur terus hidup, menari di antara generasi, menjadi bahasa abadi tentang rasa syukur, harmoni, dan kebanggaan menjadi bagian dari budaya Kayan Umaq Lekan. (ADV/ProkopimKutim/BK)


