Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Pariwara Kominfo Kutim

Penurunan Stunting di Kutim Capai 26 Persen, DPPKB Tekankan Kolaborasi sebagai Kunci Utama

Redaksi by Redaksi
10 November 2025
Reading Time: 2 mins read
0
Penurunan Stunting di Kutim Capai 26 Persen, DPPKB Tekankan Kolaborasi sebagai Kunci Utama
280
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsApp

Kutai Timur – Upaya penanganan stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menunjukkan hasil signifikan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) terbaru, angka stunting Kutim turun dari 29 persen menjadi 26 persen. Dari total tersebut, 6,3 persen merupakan kategori gizi sangat buruk atau seperlay, sementara sekitar 20 persen masuk kategori stunting umum.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi, menilai penurunan ini tidak lepas dari kerja bersama lintas sektor, termasuk Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, PLKB, dan peran aktif masyarakat melalui Posyandu. “Kita bersyukur angka stunting menurun 2 hingga 3 persen. Target kita tahun depan dua digit, minimal 24 persen,” ujarnya.

Junaidi menegaskan bahwa penanganan stunting bukan pekerjaan satu instansi saja. Intervensi harus dilakukan bersama melalui pemanfaatan data keluarga berisiko stunting (KRS). Berdasarkan pemetaan, Kecamatan Sangatta Utara tercatat memiliki keluarga berisiko tertinggi, mencapai sekitar 3.800 keluarga, disusul Bengalon. 

“Siapa pun yang tinggal lebih dari enam bulan di Kutim tetap harus didata dan dilayani tanpa diskriminasi,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa faktor risiko stunting di Kutim masih banyak dipengaruhi kondisi pasangan usia subur yang masuk kategori 4T, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kelahiran, dan terlalu banyak anak. Selain itu, sanitasi tidak layak dan keterbatasan air bersih juga menjadi penyebab utama yang harus diintervensi segera.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemkab Kutim menjalankan beberapa program prioritas, termasuk Seribu Rumah Layak Huni yang diarahkan untuk keluarga berisiko, serta edukasi penggunaan alat kontrasepsi modern bagi pasangan usia subur. Pendekatan ini dianggap efektif menurunkan risiko jangka panjang.

Junaidi optimistis, dengan kolaborasi yang semakin solid, Kutim mampu menurunkan angka stunting lebih cepat dari target nasional. “Dengan kolaborasi yang solid, saya yakin Kutim bisa menurunkan angka stunting lebih cepat,” pungkasnya. (ADV)

Redaksi

Redaksi

Next Post
DPPKB Kutim Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan untuk Jalankan Program Sekolah Lansia

DPPKB Kutim Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan untuk Jalankan Program Sekolah Lansia

Kutim Jadi Pelopor Program “Cap Jempol Stop Stunting”, DPPKB Siap Launching Akhir Oktober

Kutim Jadi Pelopor Program “Cap Jempol Stop Stunting”, DPPKB Siap Launching Akhir Oktober

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved