KONGBENG – Di tengah perayaan budaya dan upaya menjaga warisan leluhur, masyarakat Dayak Kayan di Desa Miau Baru membawa satu harapan untuk masa depan generasinya.
Mereka ingin anak-anak Kayan memperoleh kesempatan lebih luas untuk menempuh pendidikan tinggi.
Aspirasi itu disampaikan Ketua Umum Persekutuan Dayak Kayan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Tan Irang, saat Festival UFAH 2026 di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, beberapa hari lalu.
Tan Irang menempatkan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan penting dalam mempersiapkan generasi muda Kayan menghadapi perubahan zaman sekaligus mengambil peran dalam pembangunan daerah.
Karena itu, ia secara khusus meminta Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) membuka dan memperluas kesempatan bagi putra-putri Kayan yang memiliki prestasi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Kami mohon kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, kalau bisa putra-putri Kayan yang berprestasi bisa diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, baik diploma maupun S1,” ujar Tan Irang.
Harapan tersebut mendapat respons langsung dari Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman yang hadir dalam festival.
Ardiansyah menyampaikan bahwa akses menuju pendidikan tinggi sebenarnya telah tersedia di Kutim dan dapat dimanfaatkan masyarakat Miau Baru.
Salah satu yang ditawarkan adalah Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutim.
“Kalau mau kuliah di STIPER, kuliahnya gratis,” kata Ardiansyah.
Respons itu tidak berhenti pada tawaran.
Di tengah kegiatan, Ardiansyah langsung menghubungi Ketua STIPER Kutim untuk memastikan apakah penerimaan mahasiswa baru masih tersedia.
Hasil komunikasi tersebut menyatakan kesempatan mendaftar masih terbuka.
“Masih bisa mendaftar. Silakan mendaftar. Belajarnya gratis,” ujarnya.
Ardiansyah kemudian mendorong masyarakat Miau Baru, khususnya generasi mudanya, untuk memanfaatkan kesempatan tersebut.
Menurutnya, pendidikan tinggi menjadi salah satu jalan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kesempatan belajar juga perlu diarahkan agar memiliki keterkaitan dengan potensi wilayah sehingga ilmu yang diperoleh nantinya dapat kembali memberikan manfaat bagi daerah.
Dalam konteks itu, STIPER dinilai memiliki relevansi dengan karakteristik Kecamatan Kongbeng yang memiliki potensi besar di sektor pertanian.
“Di sini kan daerah pertanian, sehingga saya kira sangat cocok kalau anak-anak kita belajar di bidang pertanian,” jelas Ardiansyah.
Pilihan tersebut membuka kemungkinan agar generasi muda setempat tidak hanya memperoleh gelar akademik, tetapi juga kompetensi yang dapat diterapkan pada sektor yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.
Pendidikan dengan demikian dapat menjadi jembatan antara potensi sumber daya alam dengan kesiapan sumber daya manusia yang akan mengelolanya pada masa mendatang.
Bagi Tan Irang, peningkatan kualitas generasi muda juga berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan persatuan masyarakat Kayan.
Ia mengajak masyarakat tetap menjaga kekeluargaan di tengah keberagaman Kutim. Identitas budaya yang diwariskan para pendahulu tetap dipertahankan, sementara generasi penerus dipersiapkan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan zaman.
Ardiansyah menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM memang menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan Kutim.
Karena itu, kesempatan memperoleh pendidikan perlu terus diperluas sehingga generasi muda daerah memiliki kemampuan untuk mengambil bagian dalam pembangunan, bukan sekadar menjadi penonton di tengah besarnya potensi wilayah sendiri.
Pertemuan aspirasi dan respons tersebut menjadi sisi lain Festival UFAH 2026.
Festival tidak hanya menjadi ruang mempertunjukkan kekayaan budaya Dayak Kayan, tetapi juga tempat membicarakan bagaimana generasi yang mewarisi kebudayaan tersebut dipersiapkan menghadapi masa depan.
Dari Miau Baru, aspirasi itu telah disampaikan. Pemerintah menawarkan salah satu jalannya melalui pendidikan tinggi di STIPER Kutim.
Kini kesempatan tersebut berada di hadapan putra-putri Kayan untuk dimanfaatkan—belajar, meningkatkan kapasitas diri, lalu suatu hari membawa pengetahuan itu kembali untuk membangun daerah sekaligus masyarakat tempat mereka berasal. (ADV/ProkopimKutim/BK)


