Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Pariwara Pemkab Kutai Timur

Jatung Utang di Tangan Bupati, Nyanyian Wabup Hangatkan UFAH

Tak ada podium dan pidato ketika suasana Festival UFAH 2026 berubah semakin cair. Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman duduk memainkan Jatung Utang, sementara Wakil Bupati Mahyunadi mengiringinya dengan bernyanyi. Sebuah momen sederhana di Miau Baru yang memperlihatkan budaya sebagai ruang perjumpaan antara pemimpin, masyarakat, dan warisan leluhur.

Redaksi by Redaksi
11 Agustus 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Jatung Utang di Tangan Bupati, Nyanyian Wabup Hangatkan UFAH
Share on FacebookShare on WhatsApp

KONGBENG – Bunyi Jatung Utang mengalun di tengah keramaian Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng. Namun kali ini, alat musik tradisional Dayak Kayan itu dimainkan oleh sosok yang tak biasa.

Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman berada di balik instrumen tersebut. Tak jauh darinya, Wakil Bupati Mahyunadi ikut menghidupkan suasana dengan bernyanyi.

Keduanya larut bersama masyarakat dalam Festival Budaya UFAH 2026, beberapa hari lalu.

Momen tersebut berlangsung setelah Ardiansyah secara resmi membuka festival dan bersama Mahyunadi mengikuti sejumlah prosesi adat yang menjadi bagian dari perhelatan budaya masyarakat Dayak Kayan di Miau Baru.

Dari rangkaian yang sebelumnya berlangsung formal dan sarat prosesi, suasana kemudian bergerak menjadi lebih santai.

Ardiansyah mencoba memainkan Jatung Utang. Mahyunadi mengambil bagian dengan bernyanyi. Musik dan suara kemudian berpadu di tengah masyarakat yang menyaksikan.

Tidak ada lagi jarak sebagaimana lazimnya acara pemerintahan. Untuk beberapa saat, kepala daerah dan masyarakat berada dalam ruang yang sama sebagai orang-orang yang sedang menikmati kebudayaan.

Momen itu menjadi salah satu sisi menarik dari Festival UFAH tahun ini.

Jatung Utang sendiri merupakan alat musik tradisional masyarakat Dayak Kayan. Kehadirannya dalam festival bukan hanya menjadi bagian dari hiburan, tetapi juga salah satu ekspresi budaya yang diwariskan lintas generasi.

Ketika alat musik itu dimainkan langsung oleh Bupati dan diiringi nyanyian Wakil Bupati, keterlibatan pemerintah dalam festival tidak berhenti pada seremoni pembukaan.

Keduanya ikut masuk ke dalam suasana kebudayaan yang sedang dirayakan masyarakat.

Festival UFAH memang menjadi salah satu ruang bagi masyarakat Dayak Kayan di Miau Baru untuk mempertahankan sekaligus memperkenalkan warisan leluhur.

Ritual adat, tarian, musik, pakaian tradisional hingga berbagai ekspresi budaya dihadirkan kembali sehingga kebudayaan tidak sekadar tersimpan sebagai cerita masa lalu.

Festival juga berkaitan dengan rasa syukur masyarakat atas kehidupan dan hasil panen. Nilai sosial, spiritual dan kebersamaan bertemu dalam satu perhelatan.

Karena itu, sebelum suasana santai bersama masyarakat berlangsung, Ardiansyah dan Mahyunadi terlebih dahulu mengikuti rangkaian prosesi adat pembukaan.

Tahapan tersebut memperlihatkan bahwa UFAH bukan sekadar panggung hiburan.

Di dalamnya terdapat nilai, tata cara dan tradisi yang tetap dipertahankan masyarakat sebagai bagian dari identitas mereka.

Kehadiran kepala daerah sekaligus memberikan ruang untuk memperlihatkan bahwa kebudayaan lokal memiliki tempat dalam perjalanan pembangunan Kutim.

Pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi. Identitas masyarakat yang tumbuh jauh sebelum pembangunan modern hadir juga menjadi bagian yang perlu dijaga.

Di Miau Baru, pesan tersebut tidak hanya disampaikan melalui sambutan.

Ardiansyah memilih memainkan alat musik masyarakat yang dikunjunginya. Mahyunadi kemudian menyambut permainan itu dengan nyanyian.

Sederhana, tetapi justru di situlah kedekatan tercipta.

Musik menjadi bahasa yang tidak membutuhkan banyak penjelasan. Warga dapat menyaksikan pemimpinnya ikut menikmati sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan budaya mereka sendiri.

Festival UFAH tahun ini juga bertepatan dengan momentum hari jadi Desa Miau Baru. Perpaduan keduanya membuat perayaan bukan hanya menjadi ruang mengenang perjalanan desa, tetapi sekaligus meneguhkan kembali akar budaya masyarakat yang menghuninya.

Generasi muda mendapat tempat penting dalam proses tersebut.

Melalui tarian, musik, pakaian adat dan prosesi yang disaksikan secara langsung, pengetahuan budaya tidak hanya diterima melalui cerita. Mereka melihat bagaimana tradisi dijalankan dan dirayakan oleh masyarakatnya sendiri.

Di tengah perubahan zaman, pola pewarisan seperti itulah yang membuat kebudayaan tetap memiliki kehidupan.

Modernisasi tidak harus menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang tertinggal. Sebaliknya, kebudayaan dapat terus berkembang selama masyarakat memiliki ruang untuk menjalankannya dan generasi berikutnya bersedia meneruskannya.

Festival seperti UFAH juga membuka potensi lebih luas bagi pengembangan wisata budaya Kutim. Kekhasan tradisi Dayak Kayan dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat luar untuk mengenal Miau Baru.

Namun kekuatan utamanya tetap terletak pada masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Promosi maupun pengembangan wisata perlu berjalan bersama penghormatan terhadap adat, nilai dan tata kehidupan setempat.

Pada akhirnya, salah satu gambar yang paling mudah diingat dari rangkaian UFAH 2026 mungkin justru bukan seremoni resminya.

Melainkan ketika Jatung Utang berbunyi dari tangan seorang bupati dan sebuah lagu menyusul dari wakilnya.

Di tengah masyarakat Miau Baru, keduanya menunjukkan bahwa dukungan terhadap kebudayaan terkadang tidak memerlukan banyak kata.

Cukup hadir, ikut memainkan, ikut menyanyikan dan memberi ruang agar tradisi terus terdengar.

Hari itu, Jatung Utang bukan hanya mengiringi Festival UFAH. Alunannya ikut mencairkan sekat antara pemerintah dan masyarakat dalam satu perayaan identitas Dayak Kayan yang terus hidup di Miau Baru. (ADV/ProkopimKutim/BK)

 

Post Views: 315
Redaksi

Redaksi

bacakaltim.com adalah portal berita digital yang berfokus pada menyajikan informasi terkini, tajam, dan terpercaya seputar Kalimantan Timur.

Next Post
Polsek Sangatta Utara Perketat Pengawasan SPBU, Kendaraan Pengisi BBM Dicek Satu per Satu

Polsek Sangatta Utara Perketat Pengawasan SPBU, Kendaraan Pengisi BBM Dicek Satu per Satu

Hadapi Ancaman Karhutla, Polres Kutim Gelar Apel Kesiapsiagaan dan Perkuat Sinergi Lintas Sektor

Hadapi Ancaman Karhutla, Polres Kutim Gelar Apel Kesiapsiagaan dan Perkuat Sinergi Lintas Sektor

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved