Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Pariwara Pemkab Kutai Timur

Jemput Anak, Dampingi Orang Tua, Cara Sangatta Utara Melawan Stunting

Dari delapan anak, bertambah menjadi 18, lalu 20 anak dalam satu siklus. Rumah Rehab Gizi Stunting Sangatta Utara perlahan menguji sebuah cara baru menangani stunting: anak dijemput jika tak bisa datang, tumbuh kembangnya dipantau tenaga profesional, sementara orang tua dibekali pengetahuan agar perbaikan gizi berlanjut di rumah.

Redaksi by Redaksi
18 Agustus 2026
Reading Time: 4 mins read
0
Jemput Anak, Dampingi Orang Tua, Cara Sangatta Utara Melawan Stunting
Share on FacebookShare on WhatsApp

SANGATTA – Sebuah rumah di Kecamatan Sangatta Utara memikul pekerjaan yang tidak kecil. Di tempat itulah anak-anak berisiko stunting mendapatkan makanan bergizi, menjalani pemantauan tumbuh kembang, memperoleh pendampingan, hingga ditangani tenaga profesional sesuai kebutuhan masing-masing.

Rumah Rehab Gizi Stunting Sangatta Utara kini menjadi proyek percontohan penanganan stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Jika pola intervensi yang diterapkan menunjukkan hasil positif, pemerintah daerah membuka peluang mengembangkannya ke kecamatan lain.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyampaikan hal tersebut usai membuka Karnaval Anak TK di halaman Kantor Camat Sangatta Utara, Selasa (18/8/2026). Saat itu, ia didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati dan Camat Sangatta Utara Hasdiah.

“Rumah rehab stunting ini merupakan pilot proyek bagi Kabupaten Kutai Timur,” ujar Mahyunadi.

Salah satu yang membedakan program tersebut adalah pendekatan aktif kepada keluarga. Pemerintah tidak hanya menyediakan tempat kemudian menunggu anak datang. Ketika orang tua memiliki kendala membawa anaknya, tim kecamatan akan melakukan penjemputan.

“Kalau orang tua tidak datang membawa anaknya, maka anak tersebut dijemput oleh tim kecamatan,” katanya.

Pola jemput bola itu menjadi penting karena kondisi keluarga dapat menjadi salah satu penghambat keberlanjutan intervensi. Anak yang telah masuk sasaran penanganan diupayakan tetap memperoleh pelayanan meskipun orang tuanya menghadapi keterbatasan untuk datang sendiri.

Saat ini, satu siklus Rumah Rehab Gizi Stunting ditargetkan menangani sekitar 20 anak. Dengan lima siklus dalam setahun, kapasitas awalnya mencapai sekitar 100 anak per tahun.

Angka itu masih jauh dibandingkan jumlah keluarga berisiko stunting (KRS) di Sangatta Utara yang menurut Mahyunadi mencapai 542 keluarga. Karena itu, efektivitas program percontohan tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan untuk memperbesar kapasitas maupun memperluas penerapannya.

“Ini pilot proyek. Kalau ini berhasil, mungkin kita upayakan tahun depan rumah rehab stunting ini bisa kita maksimalkan, baik di Kecamatan Sangatta Utara maupun di kecamatan-kecamatan lainnya,” tegasnya.

Kapasitas pelayanan sebenarnya terus berkembang. Program tersebut pada awalnya diuji dengan delapan anak, kemudian bertambah menjadi 18 anak dan kini mencapai 20 anak dalam satu siklus.

“Awalnya dicoba delapan, kemudian 18. Ternyata hari ini 20 masih mampu. Mungkin yang akan datang kalau 20 ini masih mampu lagi, mungkin bisa 25,” kata Mahyunadi.

Penambahan peserta, bagaimanapun, tidak bisa semata-mata mengejar angka. Kapasitas harus disesuaikan dengan kemampuan tenaga pendamping agar setiap anak tetap mendapatkan perhatian dan intervensi yang memadai.

Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, pembentukan Rumah Rehab Gizi Stunting merupakan bagian dari upaya daerah mendukung target nasional menurunkan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029.

“Pembentukan Rumah Rehab Gizi Stunting menjadi bagian dari upaya daerah mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029,” ujar Yuwana.

Secara nasional, prevalensi stunting pada 2024 berada di angka 19,8 persen, turun dari 21,5 persen pada 2023. Penurunan tersebut tetap membutuhkan kerja berkelanjutan di daerah, terutama dengan menemukan keluarga berisiko dan memastikan intervensi benar-benar menjangkau anak.

Di Rumah Rehab Gizi Stunting, penanganan karena itu tidak hanya berurusan dengan sepiring makanan. Anak juga mendapatkan pemantauan terhadap kondisi gizi dan tumbuh kembangnya, sementara pola asuh serta kondisi psikologis turut diperhatikan.

Pendekatan tersebut didukung tenaga profesional, antara lain dr Meita Togas yang menangani bidang tumbuh kembang anak, dr Murni sebagai dokter spesialis gizi klinik, serta psikolog.

Keterlibatan berbagai disiplin tersebut memungkinkan kondisi anak dilihat secara lebih utuh. Berat dan tinggi badan memang menjadi indikator penting, tetapi penyebab maupun risiko stunting dapat berkaitan dengan banyak faktor yang membutuhkan penanganan berbeda.

Camat Sangatta Utara Hasdiah mengatakan, gagasan membangun Rumah Rehab Gizi Stunting berangkat dari kebutuhan untuk memberikan penanganan yang lebih menyeluruh kepada anak-anak berisiko.

“Tujuan kita sederhana, bagaimana anak-anak yang berisiko stunting ini bisa kita bantu supaya pertumbuhannya lebih baik. Jadi bukan hanya diberi makanan, tetapi kita lihat juga gizinya, pertumbuhannya dan bagaimana pendampingan kepada orang tuanya,” ujar Hasdiah.

Orang tua ditempatkan sebagai bagian penting dalam intervensi. Mereka diberikan pemahaman mengenai pola makan dan pengasuhan agar kebiasaan yang dibangun selama anak mengikuti program dapat dilanjutkan di rumah.

“Kita ingin orang tua juga belajar. Setelah anak selesai mengikuti program di sini, orang tua bisa meneruskan pola yang sudah diajarkan di rumah,” katanya.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena waktu anak berada di Rumah Rehab Gizi terbatas. Setelah satu siklus berakhir, keluarga kembali memegang peran terbesar dalam menjaga pola makan, pengasuhan, dan tumbuh kembang anak.

Di balik program itu terdapat persoalan pembiayaan yang juga harus dijawab. Kebutuhan anggaran disebut mencapai sekitar Rp1,8 miliar, sedangkan dukungan APBD yang tersedia sekitar Rp800 juta.

Keterbatasan tersebut membuat Kecamatan Sangatta Utara memadukan sejumlah sumber pembiayaan. PT Kaltim Prima Coal (KPC) memberikan dukungan sekitar Rp150 juta di luar pembangunan rumah rehabilitasi, sementara kebutuhan operasional, termasuk penjemputan anak, didukung melalui anggaran kecamatan.

Mahyunadi menilai pola tersebut menunjukkan kreativitas pemerintah kecamatan agar pelayanan tetap dapat berjalan meskipun kebutuhan program belum seluruhnya ditopang dalam satu sumber anggaran.

“Jadi inovasi Bu Camat, agar bisa berjalan semuanya walaupun tidak dalam satu mata anggaran,” ujarnya.

Pemerintah daerah juga membuka ruang keterlibatan perusahaan dan pihak lain untuk memperluas jangkauan program. Dukungan tersebut dibutuhkan apabila kapasitas Rumah Rehab Gizi ingin ditingkatkan dan model serupa nantinya diterapkan di wilayah lain.

“Insyaallah kita akan segera maksimalkan supaya bisa lebih banyak lagi,” kata Mahyunadi.

Dengan 542 keluarga berisiko stunting di Sangatta Utara, satu rumah tentu belum dapat menjawab seluruh persoalan. Namun, dari tempat itulah sebuah pendekatan sedang diuji: pemerintah mendatangi anak yang membutuhkan, tenaga profesional bekerja bersama, dan orang tua tidak hanya menerima bantuan tetapi ikut belajar.

Jika pola tersebut mampu memperbaiki kondisi anak secara berkelanjutan, Rumah Rehab Gizi Stunting Sangatta Utara dapat menjadi pijakan untuk menjangkau lebih banyak keluarga. Rumahnya boleh kecil, tetapi pekerjaan dan harapan yang dititipkan di dalamnya jauh lebih besar. (ADV/ProkopimKutim/BK)

 

Post Views: 313
Redaksi

Redaksi

bacakaltim.com adalah portal berita digital yang berfokus pada menyajikan informasi terkini, tajam, dan terpercaya seputar Kalimantan Timur.

Next Post
RSUD Kudungga Naik Kelas, Layanan Jantung dan Kanker Hadir Lebih Dekat

RSUD Kudungga Naik Kelas, Layanan Jantung dan Kanker Hadir Lebih Dekat

Warisan Bumi Kutim di Ambang Pengakuan, Sangkulirang-Mangkalihat Menuju Geopark Nasional

Warisan Bumi Kutim di Ambang Pengakuan, Sangkulirang-Mangkalihat Menuju Geopark Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved