
SANGATTA – Pemangkasan anggaran 2025 berimbas besar pada sektor pembinaan IKM di Kabupaten Kutai Timur. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mengakui bahwa hampir seluruh kegiatan bimbingan teknis (bimtek) yang sebelumnya rutin dilaksanakan kini tidak dapat digelar lagi.
Kepala Disperindag Kutai Timur, Nora Ramadhani, tanpa ragu menggambarkan perubahan drastis tersebut.
“Namun di tahun ini semuanya agak berkurang karena adanya efisiensi. Terus terang tidak bisa dipungkiri. Jadi ada sebagian yang tidak terlalu… Hampir tidak ada. Hampir tidak ada sekarang,” ungkapnya.
Dulu, bimtek menjadi ruang belajar utama bagi pelaku IKM untuk meningkatkan keterampilan produksi, manajemen usaha, dan pemasaran. Mereka mendapatkan pelatihan langsung dari instruktur profesional yang didatangkan ke desa maupun kecamatan. Kini, ruang pembelajaran itu hilang hampir sepenuhnya.
Minimnya pelatihan ini dikhawatirkan berdampak jangka panjang terhadap kualitas produk, inovasi usaha, dan daya saing pelaku IKM Kutai Timur. Banyak pelaku usaha kecil yang bergantung pada pelatihan pemerintah untuk memperluas pengetahuan dan mengadopsi teknik produksi baru.
Dengan situasi ini, beban pembinaan bergeser ke model lain yang belum tentu terjangkau oleh pelaku usaha kecil, seperti pelatihan berbayar atau pembelajaran mandiri. Kondisi tersebut dapat memperlebar kesenjangan antara IKM yang mapan dan IKM pemula yang lebih membutuhkan pendampingan.
Efisiensi anggaran menjadi tantangan paling serius bagi Disperindag pada 2025. Tanpa inovasi pola pembinaan alternatif, kualitas IKM dikhawatirkan stagnan. Sementara persaingan usaha terus berubah dinamis pasca pandemi, IKM Kutim dituntut memiliki kapasitas untuk merespons kebutuhan pasar yang semakin kompleks. (ADV)


