SANGATTA – Di tengah tuntutan dunia pendidikan yang terus berubah, SMA Negeri 1 Sangatta Selatan (SMAN Satset) menegaskan komitmennya untuk menjadi pelopor inovasi pembelajaran di Kutai Timur (Kutim). Melalui kegiatan In House Training (IHT) bertema “Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Membangun Komunitas Baru Pembelajar melalui Kolaborasi Teaching Research Group (TRG)”, sekolah ini menggerakkan semangat baru bagi para guru untuk berkolaborasi dan berinovasi dalam praktik pendidikan.
“Langkah yang dilakukan SMAN Satset ini sangat tepat dan progresif. Guru perlu terus belajar, karena mereka adalah pelita yang menuntun anak-anak kita menembus tantangan zaman. Kami, dari pemerintah daerah, sangat mendukung inisiatif seperti ini yang memperkuat kompetensi guru dan kualitas pendidikan secara keseluruhan,” ujar Wakil Bupati Mahyunadi.
Ia menambahkan, kegiatan IHT bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan upaya serius menuju reformasi pembelajaran yang relevan dengan dinamika sosial dan teknologi masa kini.
“Kutim tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah tambang, tapi juga sebagai tambang gagasan dan inovasi pendidikan,” tegasnya.
Program IHT SMAN Satset ini turut mendapat dukungan dari PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang sejak tahun ajaran 2022/2023 aktif memperkuat pembangunan pendidikan di Kutim. Kehadiran Chief Empowerment Manager Community KPC, Nanang Supriyadi, menegaskan kesinambungan kemitraan antara dunia pendidikan dan industri.
Kepala SMAN 1 Satset, Rubito, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya sekolah dalam menerapkan konsep deep learning atau pembelajaran mendalam.
“Fokus utama pelatihan ini mencakup tiga hal. Pertama, membentuk growth mindset di kalangan guru dan siswa. Kedua, mengembangkan pembelajaran yang lebih bermakna dan berpusat pada siswa. Ketiga, memastikan hasil belajar berdampak nyata di masyarakat,” ungkapnya.
Rubito juga memperkenalkan semangat baru sekolah melalui akronim “Satset”—yang berarti gesit, adaptif, dan unggul—sekaligus menjadi filosofi pendidikan yang diusung sekolah. Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Dewi, menjelaskan bahwa kegiatan diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari guru dan tenaga kependidikan. Pada hari pertama, peserta mendapatkan dua materi utama: growth mindset dan pembelajaran mendalam bersama Tri Widayati dari Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Kaltim, serta sesi kedua bersama Rubito yang fokus pada kolaborasi antarguru melalui Teaching Research Group (TRG).
Pelatihan ini menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan dapat tumbuh dari komunitas guru sendiri, dengan dukungan pemerintah daerah dan dunia industri. Melalui TRG, SMAN Satset menumbuhkan budaya belajar kolektif yang berorientasi pada riset dan praktik reflektif—menjadikan guru bukan sekadar pengajar, tetapi peneliti pembelajaran.
Langkah ini menegaskan posisi SMAN 1 Sangatta Selatan sebagai pionir pendidikan yang adaptif dan kolaboratif di Kutai Timur. Dari Sangatta Selatan, semangat Satset terus menyalakan nyala perubahan: berangkat dari guru, tumbuh bersama komunitas, dan berdampak bagi generasi mendatang.(ADV/ProkopimKutim/BK)


