
SANGATTA—Anak muda memang dikenal memiliki nergi kreativitas dan semangat berlebih. Di usia ini, mereka biasa menyalurkan energi dan kreativitas mereka dalam berbagai kegiatan. Hal ini bisa menjadi potensi yang bisa dikembangkan.
Sayangnya, ada juga anak muda yang menyalurkan energi dan kreativitasnya pada kegiatan yang kurang tepat. Anak-anak muda penggemar otomotif di Kutai Timur (Kutim) menyalurkan energinya dalam bentuk balap liar. Hal ini tentu memiliki beberapa dampak negatif seperti risiko keselamatan.
Menurut Yulianus Palangiran, Anggota Komisi D DPRD Kutai Timur, fenomena balapan liar ini melibatkan tiga kelompok utama yang saling berkaitan. Kelompok pertama adalah anak-anak muda yang melakukan aksi balapan secara spontan dan bergerombol. Bagi mereka, balapan adalah bentuk hiburan, euforia, dan cara mencari sensasi untuk melepaskan energi berlebih.
Kelompok kedua adalah para pencinta modifikasi motor. Fokus kelompok ini tidak hanya pada kecepatan, tetapi juga pada prestise teknis dan keunikan kendaraan mereka. Motor mereka sering diubah secara ekstensif untuk performa dan penampilan. Balapan menjadi ajang pamer sekaligus uji coba terhadap hasil modifikasi tersebut.
Sementara itu, kelompok ketiga terlibat balapan lebih didorong oleh faktor “gengsi” dan dinamika kelompok. Bagi mereka, balapan bukan sekadar hobi atau urusan teknis, melainkan alat untuk membangun dan mempertahankan reputasi atau status di dalam komunitas atau geng mereka.
Anggota Dewan dari Partai NasDem tersebut mengakui bahwa fenomena ini sering terlihat di lapangan, meski laporan langsung dari warga jarang diterima.
“Tidak ada laporan langsung dari warga, tapi kan selama ini yang kita lihat dan saya rasakan sendiri itu kan selalu dicegat oleh bapak-bapak kepolisian,” kata Yulianus baru-baru saja kepada awak media.
Meski jarang dilaporkan warga, Yulianus memastikan bahwa aksi tersebut memang terjadi.
“Balapan liar itu kan ada tiga yang bergandengan, yaitu kelompok para anak-anak muda, kelompok dengan modifikasi motor-motor khusus dan kelompok karena gengsi, akhirnya membuat balapan-balapan liar seperti itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski jarang dilaporkan, aksi tersebut memang terjadi. Menyikapi hal ini, legislator tersebut menekankan pentingnya langkah pencegahan ke depannya. Tujuannya untuk mencegah tren ini tidak berulang.
“Nah ini yang kita harus cegah ke depan. Kita usahakan Kutai Timur supaya jangan ada balapan liar lagi,” pungkasnya.
Dengan memahami akar permasalahan yang didominasi oleh energi berlebih, kecintaan pada modifikasi, dan dinamika kelompok, pemerintah dan komunitas diharapkan dapat bersinergi mencari wadah positif, mengubah tantangan ini menjadi peluang pengembangan bakat otomotif dan kreativitas anak muda Kutai Timur. (ADV)


