TELUK PANDAN — Di antara hamparan kebun kelapa sawit yang terus berkembang, masih ada lahan-lahan kecil yang dipertahankan masyarakat untuk menanam pangan. Di sana, petani Teluk Pandan mencoba menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlangsungan pangan lokal.
Suasana itu terlihat ketika Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman melakukan kunjungan kerja ke Desa Persiapan Bukit Pandan Jaya, Kecamatan Teluk Pandan. Kegiatan tersebut dirangkai dengan penanaman melon, panen semangka bersama kelompok tani, peninjauan bantuan rumah layak huni, serta dialog langsung dengan masyarakat.
Bagi pemerintah daerah, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda lapangan. Ada persoalan yang lebih besar yang ikut dibicarakan, mulai dari masa depan pertanian rakyat, ancaman banjir, hingga bagaimana menjaga keberagaman sumber pangan di tengah kuatnya ekspansi perkebunan.
Ardiansyah menegaskan, ketahanan pangan harus dipahami sebagai kebutuhan dasar yang menyangkut keberlangsungan kehidupan masyarakat. Menurutnya, pangan tidak boleh hanya menjadi program di atas kertas, tetapi harus diwujudkan melalui perlindungan terhadap petani dan lahan produktif.
“Ketahanan pangan ini harus kita tangkap bersama sebagai dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujar Ardiansyah.
Ia menyebut, penguatan pangan tidak hanya berkaitan dengan komoditas utama seperti beras dan jagung, tetapi juga mencakup berbagai tanaman hortikultura yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Karena itu, Ardiansyah mengapresiasi kelompok tani di Teluk Pandan yang tetap mengembangkan pertanian di tengah perubahan ekonomi wilayah. Salah satunya Gapoktan Sawit Mandiri Sejahtera (SMS) yang mengembangkan melon, serta Kelompok Tani Sinar Mentari yang membudidayakan semangka.
Menurut dia, keberagaman komoditas pertanian menjadi salah satu cara agar masyarakat memiliki pilihan sumber penghasilan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Namun, di balik keberhasilan panen tersebut, para petani masih menghadapi persoalan yang belum terselesaikan. Ancaman banjir menjadi salah satu kendala utama yang kerap mengganggu aktivitas pertanian.
Ketua Gapoktan Sawit Mandiri Sejahtera, Sunyoto, mengatakan sejumlah lahan pertanian mulai terdampak akibat genangan air yang semakin sering terjadi. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya penyempitan aliran sungai di kawasan RT 5 Teluk Pandan.
Menurutnya, petani membutuhkan dukungan pemerintah terutama dalam penanganan aliran air agar lahan tetap produktif.
“Kami berharap ada normalisasi sungai supaya lahan pertanian masyarakat tidak terus terdampak ketika musim hujan,” ujarnya.
Selain persoalan banjir, kelompok tani juga berharap dukungan sarana produksi pertanian agar kegiatan budidaya dapat berjalan lebih optimal.
Menanggapi hal tersebut, Ardiansyah menjelaskan bahwa pemerintah daerah tetap berupaya membantu melalui mekanisme yang tersedia. Namun, sejumlah kewenangan seperti pengadaan alat pertanian, bibit, dan pupuk kini lebih banyak melalui pengusulan kepada pemerintah pusat.
“Sekarang pemerintah daerah tidak bisa lagi membeli alat pertanian secara langsung. Semua harus diusulkan ke pusat, termasuk bibit dan pupuk,” jelasnya.
Terkait persoalan banjir, Ardiansyah mengatakan penanganannya harus melihat penyebab utama di setiap lokasi. Menurutnya, tidak semua genangan memiliki persoalan yang sama.
“Kalau sungainya meluap tentu normalisasi diperlukan. Tapi kalau air tertahan di lahan, maka irigasinya yang harus diperbaiki,” katanya.
Selain sektor pertanian, kunjungan tersebut juga menjadi momentum penyerahan bantuan rehabilitasi rumah layak huni dari Baznas kepada enam penerima manfaat. Bantuan itu terdiri dari empat unit melalui program kabupaten dan dua unit dari pemerintah provinsi.
Ardiansyah menyebut, pembangunan rumah layak huni menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemkab Kutim sendiri menargetkan pembangunan 1.000 rumah baru serta 5.000 unit bedah rumah selama masa pemerintahan berjalan.
Sementara itu, Camat Teluk Pandan Anwar berharap perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian dapat semakin memperkuat semangat masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal.
“Kami berharap kegiatan ini semakin mempererat silaturahmi dan meningkatkan semangat gotong royong masyarakat,” ujarnya.
Bagi Teluk Pandan, pertanian bukan hanya tentang hasil panen yang dijual ke pasar. Ia juga tentang bagaimana masyarakat mempertahankan ruang hidupnya di tengah perubahan wajah wilayah.
Di antara perkebunan sawit yang terus tumbuh, petani masih menanam, merawat, dan berharap. Sebab bagi mereka, menjaga pangan lokal berarti menjaga keberlanjutan kehidupan desa itu sendiri. (ADV/ProkopimKutim/BK)


