Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Pariwara Pemkab Kutai Timur

Dari Pedalaman ke Sangatta, Mahasiswa Kutim Kini Punya Asrama

Bagi mahasiswa asal kecamatan yang jauh dari Sangatta, tempat tinggal bisa menjadi persoalan tersendiri ketika menempuh pendidikan. Kini sebuah asrama putra dua lantai dengan 12 kamar telah selesai dibangun melalui dukungan PT Kaltim Prima Coal. Pemkab Kutim berharap bangunan itu bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga membantu mahasiswa lebih tenang mengejar pendidikan.

Redaksi by Redaksi
19 Agustus 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Dari Pedalaman ke Sangatta, Mahasiswa Kutim Kini Punya Asrama
Share on FacebookShare on WhatsApp

SANGATTA – Bangunan dua lantai di kawasan Jalan Sidodadi, Sangatta Utara, itu sudah rampung. Berukuran sekitar 15×25 meter persegi, di dalamnya tersedia 12 kamar tidur dan enam kamar mandi yang disiapkan untuk mahasiswa putra.

Asrama tersebut dibangun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR PT Kaltim Prima Coal (KPC). Kehadirannya terutama diharapkan membantu mahasiswa yang berasal dari kecamatan-kecamatan di Kutai Timur (Kutim) dan harus tinggal di Sangatta selama menjalani pendidikan.

Sekretaris Kabupaten (Seskab) Kutim Rizali Hadi melihat langsung kondisi bangunan tersebut, Rabu (19/8/2026). Ia datang bersama sejumlah pejabat daerah, di antaranya Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Kepala Bagian Ekonomi, serta perwakilan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).

Peninjauan dilakukan setelah pekerjaan fisik selesai. Pemerintah daerah ingin memastikan bangunan tersebut siap digunakan sekaligus mulai memikirkan pengelolaannya ketika mahasiswa menempati asrama.

Dua belas kamar yang tersedia dibagi pada lantai atas dan bawah. Enam kamar mandi melengkapi fasilitas tersebut. Dengan kapasitas yang ada, asrama diharapkan memberikan pilihan tempat tinggal yang lebih layak bagi mahasiswa, terutama mereka yang datang dari wilayah pedalaman.

Bagi sebagian mahasiswa dari kecamatan yang jauh, menempuh pendidikan di Sangatta memang bukan hanya soal biaya kuliah. Mereka juga harus memikirkan tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, serta biaya yang menyertainya.

Di titik itulah keberadaan asrama mempunyai arti lebih dari sekadar bangunan baru.

“Pembangunan asrama ini adalah wujud sinergi yang konkret antara pemerintah daerah dan dunia usaha. Kami mengapresiasi kontribusi PT KPC dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kutai Timur,” ujar Rizali.

Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia membutuhkan dukungan dari banyak sisi. Pendidikan memang berlangsung di ruang kuliah, tetapi lingkungan tempat mahasiswa tinggal ikut menentukan kenyamanan mereka menjalani proses tersebut.

Tempat tinggal yang aman dan memadai setidaknya dapat mengurangi satu persoalan yang harus dipikirkan mahasiswa selama berada jauh dari keluarga. Harapannya, energi mereka bisa lebih banyak dicurahkan untuk belajar dan menyelesaikan pendidikan.

“Dengan menyediakan tempat tinggal yang nyaman dan aman, pemerintah berharap mahasiswa dapat lebih tenang dalam menempuh proses akademisnya, yang pada akhirnya akan melahirkan generasi muda daerah yang cerdas, kompetitif, dan siap membangun daerahnya sendiri,” kata Rizali.

Pemkab Kutim melihat pembangunan asrama tersebut sebagai salah satu bentuk kolaborasi yang dapat terus dikembangkan bersama dunia usaha. Dengan kebutuhan pembangunan daerah yang begitu luas, kemampuan APBD tentu memiliki batas.

Karena itu, dukungan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial dapat diarahkan untuk melengkapi pembangunan pemerintah, terutama pada kebutuhan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Namun, pekerjaan tidak selesai ketika bangunan berdiri dan kontraktor meninggalkan lokasi. Setelah asrama rampung, persoalan berikutnya justru menentukan apakah fasilitas tersebut akan bertahan dan benar-benar memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Sinergi ini menjadi kunci untuk mengakselerasi pembangunan daerah yang tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah semata. Kini, setelah pembangunan selesai, tantangan berikutnya adalah pengelolaan,” tegas Rizali.

Pengelolaan menjadi penting karena asrama akan digunakan bersama oleh mahasiswa dengan latar belakang berbeda. Dibutuhkan aturan penggunaan, pemeliharaan fasilitas, serta pembagian tanggung jawab agar bangunan tidak hanya bagus ketika pertama kali diserahkan.

Rizali berharap fasilitas tersebut segera dapat dimanfaatkan. Ia juga ingin kehidupan di dalam asrama nantinya berkembang menjadi ruang pertemuan mahasiswa dari berbagai kecamatan di Kutim.

“Asrama ini diharapkan bukan hanya menjadi tempat bernaung, tetapi juga ruang interaksi antarmahasiswa dari berbagai latar belakang, yang nantinya akan mempererat persatuan generasi muda Kutai Timur,” ujarnya.

Harapan itu cukup beralasan. Mahasiswa dari wilayah pesisir, pedalaman maupun kawasan perkotaan akan memiliki kesempatan tinggal dan berinteraksi dalam satu lingkungan. Dari sana, pertemanan, pertukaran pengalaman, bahkan gagasan tentang daerah asal masing-masing bisa tumbuh secara alami.

Pada akhirnya, nilai sebuah asrama memang tidak ditentukan oleh jumlah kamar ataupun luas bangunannya. Manfaat sesungguhnya baru terlihat ketika kamar-kamar tersebut terisi mahasiswa yang dapat belajar dengan lebih tenang, menyelesaikan pendidikannya, lalu membawa pengetahuan yang diperoleh untuk memberi manfaat kembali kepada daerah.

Bangunan di Jalan Sidodadi itu kini sudah tersedia. Tugas berikutnya adalah menjaganya tetap layak dan memastikan mereka yang paling membutuhkan benar-benar memperoleh manfaat. Sebab bagi mahasiswa yang datang dari jauh, sebuah kamar sederhana di Sangatta bisa berarti satu beban yang berkurang dalam perjalanan menyelesaikan pendidikan. (ADV/ProkopimKutim/BK)

 

Post Views: 377
Redaksi

Redaksi

bacakaltim.com adalah portal berita digital yang berfokus pada menyajikan informasi terkini, tajam, dan terpercaya seputar Kalimantan Timur.

Next Post
Warisan PAMA di Bengalon, 179 Pemuda Bawa Bekal Kompetensi Industri

Warisan PAMA di Bengalon, 179 Pemuda Bawa Bekal Kompetensi Industri

Rudy Mas’ud Puji Jalan KPC, Layak Jadi Contoh di Kaltim

Rudy Mas’ud Puji Jalan KPC, Layak Jadi Contoh di Kaltim

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved