SANGATTA — Menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) bukan hanya tentang kemampuan baris-berbaris dan kesiapan fisik. Di balik tugas mengibarkan Sang Merah Putih, terdapat proses panjang yang menguji kedisiplinan, mental, wawasan kebangsaan, hingga tanggung jawab generasi muda.
Semangat tersebut terlihat dalam pembukaan seleksi Calon Paskibraka Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Tahun 2026 yang digelar di Aula Hotel Five Style Kutai Permai beberapa waktu lalu.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Timur, Kepala Kesbangpol Kutim Tejo Yuwono, tim penilai, tim medis, pelatih, serta para peserta seleksi.
Proses penjaringan calon anggota Paskibraka telah berlangsung sejak Januari 2026. Tahap awal dimulai dengan pembentukan tim seleksi dan sosialisasi ke seluruh kecamatan di wilayah Kutim untuk membuka kesempatan bagi pelajar yang ingin mengikuti proses tersebut.
Kepala Bidang Ideologi Wawasan Kebangsaan Ketahanan Ekonomi Sosial Budaya dan Agama Kesbangpol Kutim Hapiah menjelaskan, jumlah pendaftar awal mencapai 204 orang. Setelah melalui proses seleksi administrasi selama 12 hari, mulai 23 Februari hingga 6 Maret 2026, sebanyak 187 peserta dinyatakan memenuhi persyaratan.
Dari jumlah tersebut, terdiri atas 135 peserta putra dan 52 peserta putri.
Tahapan berikutnya dilanjutkan dengan tes wawasan kebangsaan (TWK) dan tes intelegensi umum (TIU) pada 12–13 Maret 2026. Hasil seleksi tersebut kemudian menyaring 134 peserta yang berhak melanjutkan ke tahap seleksi fisik.
“Seluruh peserta yang hadir hari ini telah melewati proses penyaringan awal secara daring, mulai dari pendaftaran hingga TWK. Dari hasil seleksi tersebut, terjaring 134 peserta yang berhak mengikuti seleksi fisik mulai 7 hingga 10 April,” jelas Hapiah.
Ia menyampaikan bahwa seleksi fisik dilakukan menggunakan sistem gugur. Setiap tahapan memiliki standar penilaian tersendiri, sehingga peserta yang belum memenuhi kriteria tidak dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.
Pada pemeriksaan kesehatan awal, sebanyak enam peserta harus terhenti karena beberapa faktor, mulai dari mengundurkan diri, mengalami kecelakaan, hingga tidak memenuhi standar kesehatan, terutama pada pemeriksaan penglihatan.
“Setiap tahapan menggunakan sistem gugur, sehingga peserta yang tidak memenuhi kriteria langsung tersaring pada tahap tersebut,” tegas Hapiah.
Sementara itu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat membuka kegiatan tersebut mengingatkan para peserta agar mempersiapkan diri secara maksimal. Menurutnya, seleksi Paskibraka membutuhkan kesiapan menyeluruh, mulai dari kemampuan fisik hingga kematangan sikap.
“Saya berpesan kepada kalian sebagai calon putra-putri terbaik daerah yang nantinya akan terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera, baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten, agar senantiasa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya,” ujar Ardiansyah.
Ia menambahkan, peserta yang terpilih nantinya akan membawa nama daerah dalam momentum penting peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Karena itu, selain kemampuan fisik, para calon Paskibraka juga harus memiliki disiplin, moralitas, serta rasa tanggung jawab.
Menurutnya, proses seleksi ini juga menjadi bagian dari pembinaan karakter generasi muda. Paskibraka diharapkan mampu melahirkan pemuda yang memiliki jiwa kepemimpinan dan semangat kebangsaan.
“Menjadi Paskibraka bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari proses pembinaan dan penempaan diri. Dari sini akan lahir purna Paskibraka yang tangguh dan berkarakter,” ungkapnya.
Melalui rangkaian seleksi yang ketat tersebut, Pemkab Kutim berharap dapat menemukan putra-putri terbaik daerah yang mampu menjalankan tugas sebagai pengibar bendera sekaligus menjadi teladan bagi generasi muda lainnya.
Dari 134 peserta yang bertahan, nantinya akan dipilih anggota terbaik untuk mewakili Kutim dalam upacara tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Sebuah proses panjang yang tidak hanya mencari kemampuan fisik, tetapi juga membentuk karakter dan rasa cinta terhadap bangsa. (ADV/ProkopimKutim/BK)


