SANGATTA — Jarak sering menjadi alasan seseorang belum dekat dengan buku. Bagi sebagian masyarakat, terutama anak-anak di wilayah yang jauh dari pusat layanan, perpustakaan bisa terasa sebagai tempat yang sulit dijangkau.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berupaya memutus jarak tersebut melalui layanan perpustakaan keliling yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kutim.
Dengan konsep mendatangi pembaca, layanan ini tidak hanya hadir di sekolah-sekolah, tetapi juga menyapa masyarakat di ruang publik dan kawasan permukiman. Tujuannya sederhana, membuat bahan bacaan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pustakawan Dispusip Kutim, Beatrix Aprastia atau akrab disapa Tia, mengatakan perpustakaan keliling menjadi salah satu program yang terus dioptimalkan untuk memperluas jangkauan layanan literasi.
“Selama hari sekolah, layanan lebih banyak kami arahkan ke sekolah-sekolah karena mendukung agenda literasi 15 menit yang telah diterapkan. Banyak sekolah yang mengajukan permintaan, bahkan sebagian sudah menjadi mitra kolaborasi rutin,” ujarnya.
Menurut Tia, sekolah menjadi salah satu sasaran utama karena budaya membaca perlu ditanamkan sejak usia dini. Kehadiran mobil perpustakaan keliling memberi ruang bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan berbagai koleksi bacaan di luar buku pelajaran.
Namun ketika masa libur sekolah berlangsung, pola pelayanan turut disesuaikan. Armada perpustakaan keliling dialihkan ke ruang-ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama anak-anak.
Sejumlah lokasi seperti taman bermain, kawasan Danau Polder Ilham Maulana Sangatta, hingga titik aktivitas masyarakat lainnya menjadi bagian dari jangkauan layanan.
“Kami menyesuaikan juga dengan kondisi di lapangan. Biasanya petugas mulai beroperasi sekitar pukul 08.30 Wita, kemudian menyesuaikan aktivitas masyarakat di lokasi tujuan agar layanan benar-benar dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Selain membawa koleksi buku, keberadaan perpustakaan keliling juga menjadi cara pemerintah membangun kebiasaan baru: menjadikan membaca sebagai aktivitas yang dekat dan mudah dilakukan.
Meski demikian, luas wilayah Kutim menjadi tantangan tersendiri. Dengan cakupan wilayah yang besar, kebutuhan pelayanan literasi tentu membutuhkan dukungan sarana yang memadai.
Saat ini, Dispusip Kutim baru memiliki dua unit mobil perpustakaan keliling. Dua armada tersebut pun telah berusia lebih dari lima hingga sepuluh tahun sehingga kemampuan menjangkau seluruh wilayah belum sepenuhnya optimal.
“Kami sebenarnya ingin menjangkau lebih banyak wilayah, tetapi armada yang tersedia sangat terbatas. Permintaan dari sekolah juga cukup banyak sehingga harus kami atur jadwalnya secara bergantian,” kata Tia.
Keterbatasan tersebut tidak menghentikan upaya Dispusip Kutim untuk menjaga keberlangsungan layanan. Petugas tetap menyusun jadwal agar sekolah, ruang publik, maupun masyarakat di berbagai kawasan tetap mendapatkan akses terhadap bahan bacaan.
Kepala Bidang Pengolahan, Layanan, dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dispusip Kutim, Kamariah, mewakili Kepala Dispusip Ayub, menegaskan bahwa perpustakaan keliling merupakan strategi penting dalam memperluas pelayanan literasi.
Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu datang ke gedung perpustakaan. Melalui layanan jemput bola, perpustakaan dapat hadir di tengah aktivitas masyarakat.
“Perpustakaan keliling menjadi salah satu upaya mendekatkan layanan kepada masyarakat agar akses informasi dan pengetahuan dapat dirasakan lebih luas,” ujarnya.
Ke depan, Dispusip Kutim berharap penguatan sarana dan prasarana terus dilakukan agar layanan dapat menjangkau lebih banyak kecamatan hingga desa.
Sebab, membangun budaya literasi bukan hanya tentang menyediakan buku, tetapi juga menghadirkan kesempatan bagi setiap orang untuk menemukan pengetahuan.
Di tengah luasnya wilayah Kutim, perpustakaan keliling menjadi pengingat bahwa buku tidak harus menunggu didatangi. Terkadang, buku perlu berjalan lebih dulu untuk menemukan pembacanya.(ADV/ProkopimKutim/BK)


