
Kutai Timur – Upaya penanganan stunting di Kabupaten Kutai Timur menghadapi tantangan anggaran yang semakin ketat pada triwulan IV tahun berjalan. Meski demikian, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim memastikan bahwa program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) tetap menjadi program prioritas.
“Iya program kita itu ada namanya Genting, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting,” kata Anik Saidah, Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB.
Menurut Anik, angka stunting di Kutim memang telah menunjukkan penurunan menjadi 26 persen. Dari angka tersebut, 21 persen masuk kategori stunting umum dan 5 persen berada pada kategori sangat stunting.
“Untuk yang 5% itu artinya yang memerlukan penanganan khusus karena disertai riwayat seperti penyakit jantung atau diabetes yang diwariskan secara genetik dari orang tua,” jelasnya.
Namun, pelaksanaan program Genting terkendala keterbatasan anggaran. Kondisi geografis Kutai Timur yang luas dan jarak antarkecamatan yang jauh membuat biaya kegiatan lapangan semakin besar.
“Kami menilai anggaran yang ada saat ini masih terbatas untuk pelaksanaan program pencegahan stunting, apalagi mengingat jarak antar kecamatan yang cukup jauh. Di triwulan ke 4 ini kita juga sudah kehabisan anggaran,” ujarnya.
Untuk tetap menjaga efektivitas program, DPPKB melakukan kolaborasi dengan pemerintah desa dan kecamatan. Anik menyebut, persoalan anggaran telah disampaikan kepada Komisi D DPRD Kutim dan akan dibahas lebih lanjut bersama badan anggaran.
“Tadi kita sudah bertemu dengan DPRD Kabupaten Komisi D, kita sampaikan masalah kekurangan anggaran. Pihak DPRD Kabupaten sangat terbuka dan akan membahasnya kembali dengan badan anggaran,” pungkasnya. (ADV)


