SANGATTA – Pergerakan air laut mulai terasa lebih jauh di alur Sungai Sangatta. Saat pasang datang, kadar garam di beberapa titik mengalami peningkatan cukup tajam. Kondisi itu membuat Perumdam Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur memperketat pemantauan, sebab sungai tersebut menjadi sumber air baku bagi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kabo.
Meski intrusi menguat di bagian hilir, masyarakat belum perlu khawatir. Hasil pengujian terbaru menunjukkan air di sekitar kawasan pengambilan IPA Kabo masih berada jauh di bawah ambang batas kadar klorida dan tetap laik untuk diolah menjadi air bersih.
Direktur Utama Perumdam TTB Kutim Suparjan mengatakan pemantauan dilakukan secara berkala selama Agustus 2026. Sampel diambil pada sejumlah titik Sungai Sangatta, terutama ketika muka air sedang pasang untuk mengetahui sejauh mana air laut bergerak masuk ke badan sungai.
Perubahan paling mencolok ditemukan di Jembatan Kampung Kajang. Pada 16 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA, kadar klorida di lokasi itu hanya 0,2 ppm. Empat hari berselang, 20 Agustus pukul 16.30 WITA, hasil pemeriksaan menunjukkan kenaikan menjadi 59,7 ppm.
Lonjakan jauh lebih tinggi tercatat pada 24 Agustus 2026 pukul 08.00 WITA. Kadar klorida di Kampung Kajang mencapai 315,6 ppm, sedikit melampaui ambang batas maksimum 300 ppm yang digunakan sebagai acuan kualitas air baku.
Angka tersebut tentu menjadi perhatian. Namun, hasil pemeriksaan pada titik yang lebih dekat dengan Intake IPA Kabo memberikan gambaran yang jauh berbeda.
Sekitar dua jam setelah pengujian di Kampung Kajang, petugas mengambil sampel di kawasan Porodisa. Lokasinya berada sekitar tiga kilometer di hilir Intake IPA Kabo. Hasilnya, kadar klorida hanya tercatat 2,5 ppm.
“Hasil uji di daerah Porodisa yang berjarak 3 km di hilir Intake IPA Kabo menunjukkan kadar klorida sebesar 2,5 ppm. Artinya, air baku yang masuk ke instalasi pengolahan IPA Kabo dipastikan aman dan laik untuk diproses menjadi air bersih,” tegas Suparjan.
Perbedaan cukup lebar antara Kampung Kajang dan Porodisa menunjukkan intrusi air laut belum bergerak sampai ke kawasan intake. Kondisi air Sungai Sangatta juga tidak dapat disimpulkan hanya dari satu lokasi pengukuran karena pengaruh pasang dapat berbeda berdasarkan titik dan waktu pengambilan sampel.
Bagi Perumdam, situasi tersebut tetap menjadi alarm untuk meningkatkan kewaspadaan. Jika pergerakan air asin semakin jauh ke hulu, perubahan kualitas air baku harus diketahui sedini mungkin sebelum berdampak terhadap proses produksi maupun pelayanan kepada pelanggan.
Karena itu, pengukuran tidak berhenti setelah ditemukannya kadar 315,6 ppm di Kampung Kajang. Perumdam TTB Kutim akan terus memantau kadar klorida di sepanjang alur Sungai Sangatta, termasuk titik-titik yang semakin mendekati kawasan intake.
Pemantauan berkala juga penting mengingat kondisi sungai bersifat dinamis. Pasang surut, debit air sungai dan kondisi cuaca dapat memengaruhi seberapa jauh intrusi bergerak. Data dari satu waktu pengukuran dapat berubah ketika kondisi hidrologi sungai berubah.
Untuk sementara, hasil pengujian memberikan kabar baik bagi pelanggan. Meski intrusi air laut telah terdeteksi kuat di Kampung Kajang hingga melewati ambang 300 ppm, kadar klorida tiga kilometer di hilir Intake IPA Kabo masih berada pada angka 2,5 ppm.
Perumdam TTB Kutim memastikan kondisi tersebut masih aman untuk proses produksi. Pengawasan akan terus dilakukan agar setiap perubahan dapat segera direspons dan pasokan air bersih kepada masyarakat tetap terjaga. Intrusi boleh bergerak di hilir, tetapi kualitas air yang masuk ke IPA Kabo tidak boleh luput dari pengawasan. (ADV/ProkopimKutim/BK)


