Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result

Stroke Berpacu dengan Waktu, Kutim Perkuat Penanganan Sejak dari Ambulans

Dalam serangan stroke, kecepatan membawa pasien ke rumah sakit saja belum cukup. Cara memberikan pertolongan awal hingga mengevakuasi pasien juga menentukan. Ketika kasus stroke di Kutai Timur disebut cenderung meningkat, Dinas Kesehatan mulai memperkuat mata rantai pertolongan sejak dari rumah dengan membekali petugas Puskesmas, PSC 119 hingga pengemudi ambulans desa.

Redaksi by Redaksi
16 Agustus 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Stroke Berpacu dengan Waktu, Kutim Perkuat Penanganan Sejak dari Ambulans
Share on FacebookShare on WhatsApp

SANGATTA — Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) memperkuat kesiapan petugas yang berada di garis depan penanganan pasien stroke. Langkah tersebut dilakukan menyusul tren kasus yang disebut cukup tinggi dan cenderung meningkat seiring perubahan pola hidup masyarakat.

Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan pembekalan diberikan kepada petugas Puskesmas, Public Safety Center (PSC/PSC 119), petugas ambulans desa hingga pengemudi ambulans. Mereka memiliki posisi penting karena kerap menjadi pihak pertama yang membantu pasien sebelum memperoleh penanganan lanjutan di rumah sakit.

Menurut Yuwana, edukasi mengenai stroke sebenarnya telah dilakukan kepada masyarakat melalui seminar maupun penyuluhan yang melibatkan organisasi profesi kesehatan. Namun, peningkatan kemampuan petugas lapangan tetap diperlukan karena penanganan awal yang keliru berpotensi memperburuk kondisi pasien.

“Banyak penanganan stroke, kejadian stroke di rumah, itu mungkin karena mereka tidak paham. Cara mengangkatnya ternyata salah, penanganan awal sebelum ke rumah sakit juga salah, akhirnya malah memperberat kondisi pasien,” ujar Yuwana usai mengikuti Rakor KPAD di Ruang Arau, Kantor Bupati Kutim, Senin (10/8/2026).

Kondisi tersebut menjadi alasan Dinkes memperkuat pemahaman petugas mengenai pertolongan dan evakuasi yang tepat. Dengan kemampuan yang memadai, proses membawa pasien dari rumah menuju fasilitas kesehatan diharapkan tidak justru menambah risiko.

Pembekalan juga menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai penanganan stroke. Sebab, keberhasilan pelayanan tidak hanya ditentukan ketika pasien tiba di rumah sakit, tetapi sudah dimulai sejak gejala pertama dikenali, pertolongan diberikan dan keputusan untuk mencari layanan medis diambil.

Di sisi lain, Yuwana mengungkapkan kasus stroke di Kutim menunjukkan kecenderungan meningkat. Perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor yang menurutnya perlu mendapat perhatian lebih besar.

“Yang jelas trennya ada kenaikan, karena ini termasuk penyakit akibat gaya hidup, perubahan gaya hidup,” katanya.

Pola konsumsi menjadi salah satu yang disoroti. Makanan tinggi kolesterol serta minuman dengan kandungan gula berlebih dapat meningkatkan faktor risiko penyakit tidak menular apabila dikonsumsi tanpa pengendalian dan disertai pola hidup yang tidak sehat.

Yuwana turut mengingatkan kebiasaan mengonsumsi minuman manis yang kini banyak dijumpai di kalangan anak muda, termasuk kopi dengan tambahan gula dan susu. Persoalannya bukan semata pada satu jenis minuman, melainkan tingginya asupan gula yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila menjadi kebiasaan.

“Banyak sekarang anak muda yang kena kencing manis. Kalau tidak diberikan pengobatan, tidak terdeteksi, nanti banyak kejadian masih muda kena gagal ginjal dan sebagainya. Stroke pada anak muda juga banyak,” jelasnya.

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa penyakit yang selama ini kerap diasosiasikan dengan kelompok usia lanjut tidak dapat lagi dipandang demikian semata. Faktor risiko yang terbentuk sejak usia muda dapat membawa konsekuensi kesehatan serius apabila tidak dikenali dan dikendalikan lebih awal.

Selain pencegahan, kecepatan mengenali gejala dan memperoleh pertolongan medis menjadi perhatian Dinkes. Yuwana menegaskan adanya masa kritis dalam penanganan stroke sehingga masyarakat tidak seharusnya menunda membawa pasien ke fasilitas kesehatan.

“Untuk stroke ini ada golden period. Dalam waktu enam jam itu sudah harus segera tertangani. Kalau tidak tertangani biasanya agak susah, apalagi kalau ada pendarahan otak,” ujarnya.

Karena itu, ketika seseorang menunjukkan gejala yang mengarah pada stroke, keputusan mencari pertolongan medis perlu dilakukan sesegera mungkin. Penanganan selanjutnya akan ditentukan tenaga medis berdasarkan kondisi pasien dan jenis stroke yang dialami.

Pada kasus dengan dugaan perdarahan otak, pemeriksaan penunjang diperlukan untuk mengetahui kondisi pasien secara lebih akurat. Yuwana menyebut RSUD Kudungga telah ditunjang fasilitas CT scan dan MRI untuk membantu proses pemeriksaan.

Kesiapan tersebut diperkuat dengan keberadaan tenaga spesialis. Menurut Yuwana, RSUD Kudungga memiliki dua dokter spesialis bedah saraf yang dapat menangani kasus yang membutuhkan tindakan lebih lanjut.

“Alhamdulillah di RSUD Kudungga kita punya dua orang dokter spesialis bedah saraf, yaitu dr Heru dan dr Mirza. Untuk alat-alat kita juga sudah sangat menunjang,” katanya.

Ketersediaan fasilitas dan tenaga medis itu menjadi modal bagi Kutim dalam memperkuat pelayanan. Namun, kesiapan di rumah sakit tetap membutuhkan dukungan mata rantai sebelumnya agar pasien dapat tiba dengan cepat dan memperoleh pertolongan awal secara tepat.

Itulah sebabnya pengemudi ambulans desa turut menjadi sasaran pembekalan. Mereka bukan sekadar membawa kendaraan dari satu titik ke titik lainnya, tetapi berada dalam proses evakuasi ketika kondisi pasien membutuhkan kehati-hatian dan kecepatan.

Pada saat yang sama, masyarakat memegang peran penting dalam pencegahan. Pengendalian konsumsi gula dan makanan tinggi kolesterol, penerapan pola hidup sehat serta pemeriksaan kesehatan berkala dapat membantu mengenali faktor risiko sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Dengan demikian, menghadapi kecenderungan peningkatan kasus stroke membutuhkan dua pekerjaan yang berjalan bersamaan. Pencegahan harus diperkuat agar faktor risiko dapat ditekan, sedangkan sistem pertolongan harus siap ketika serangan terjadi.

Dinkes Kutim kini berupaya memperkuat mata rantai tersebut dari petugas yang melakukan evakuasi hingga kesiapan fasilitas dan tenaga spesialis di rumah sakit. Harapannya, pasien stroke tidak kehilangan waktu berharga akibat keterlambatan maupun kekeliruan penanganan awal sehingga risiko kecacatan dan kematian dapat ditekan. (ADV/ProkopimKutim/BK)

 

Redaksi

Redaksi

bacakaltim.com adalah portal berita digital yang berfokus pada menyajikan informasi terkini, tajam, dan terpercaya seputar Kalimantan Timur.

Next Post
Upah Buruh Perusahaan Sawit Di Bawah UMK, Bupati Kutim: Tidak Boleh Terjadi

Upah Buruh Perusahaan Sawit Di Bawah UMK, Bupati Kutim: Tidak Boleh Terjadi

Tak Cukup Razia, Satpol PP Kutim Perkuat Pengawasan untuk Cegah HIV/AID

Tak Cukup Razia, Satpol PP Kutim Perkuat Pengawasan untuk Cegah HIV/AID

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved