Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Pariwara Pemkab Kutai Timur

Tak Cukup Andalkan Anggaran Daerah, Kutim Perkuat Mesin Ekonomi Baru

Target pertumbuhan ekonomi Kutai Timur tahun 2027 yang mencapai 10,76 persen menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi fiskal daerah yang masih terbatas. Pemerintah daerah mendorong perubahan strategi pembangunan agar pertumbuhan tidak hanya bergantung pada belanja APBD, tetapi ditopang oleh sektor produktif dan investasi.

WebNesia by WebNesia
28 Juli 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Tak Cukup Andalkan Anggaran Daerah, Kutim Perkuat Mesin Ekonomi Baru
Share on FacebookShare on WhatsApp

SANGATTA — Angka pertumbuhan ekonomi sering menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah. Namun, bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), capaian tersebut perlu dilihat lebih jauh agar tidak hanya menjadi angka statistik, melainkan benar-benar mencerminkan kekuatan ekonomi masyarakat.

Hal itu menjadi perhatian Wakil Bupati Kutim Mahyunadi saat menyoroti target pertumbuhan ekonomi daerah tahun 2027 yang dipatok sebesar 10,76 persen. Menurutnya, target tersebut membutuhkan kajian mendalam agar sesuai dengan kondisi riil perekonomian daerah.

Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Kutim menunjukkan pergerakan yang cukup dinamis. Berdasarkan catatan pemerintah daerah, pertumbuhan ekonomi sempat mencapai 9,82 persen pada 2024, namun kemudian melambat hingga berada di angka 1,05 persen pada 2025.

Mahyunadi menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa struktur ekonomi Kutim masih memiliki tantangan besar, terutama karena ketergantungan terhadap belanja pemerintah dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Pekerjaan rumah bagi kita sekarang adalah mewujudkan kemandirian daerah. Jika kita terus bertumpu pada besarnya APBD, lantas di mana letak pertumbuhan murni daerah kita?” ujar Mahyunadi.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang sehat harus mampu bergerak melalui aktivitas ekonomi masyarakat, investasi, serta sektor usaha produktif. APBD tetap memiliki peran penting, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya penggerak pertumbuhan.

Mahyunadi meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim melakukan evaluasi terhadap variabel yang digunakan dalam menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2027.

Ia mempertanyakan dasar perhitungan target yang cukup tinggi tersebut apabila kondisi fiskal daerah masih menghadapi keterbatasan.

“Apa variabel dan indikatornya sehingga muncul angka setinggi itu? Target pembangunan tidak boleh hanya menjadi deretan angka di atas kertas tanpa landasan kuat,” tegasnya.

Ia memperkirakan, dengan kondisi APBD 2027 yang diproyeksikan berada di kisaran Rp6 triliun, pertumbuhan ekonomi perlu ditopang oleh sumber lain agar mampu mencapai target yang telah ditetapkan.

Karena itu, Pemkab Kutim mulai mengarahkan strategi pembangunan pada penguatan sektor yang memiliki nilai tambah ekonomi. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah hilirisasi industri.

Menurut Mahyunadi, hilirisasi dapat menjadi jalan untuk mengubah potensi sumber daya daerah menjadi aktivitas ekonomi yang lebih luas. Selain meningkatkan nilai produksi, sektor tersebut juga diharapkan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Beberapa langkah yang disiapkan pemerintah daerah antara lain mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung kawasan industri, membuka ruang investasi swasta, serta memperkuat komunikasi dengan pemerintah pusat dan provinsi untuk mendapatkan dukungan pendanaan.

Optimalisasi Dana Alokasi Khusus (DAK), Bantuan Keuangan (Bankeu), serta koordinasi dengan DPRD kabupaten maupun provinsi menjadi bagian dari strategi memperkuat pembiayaan pembangunan.

Bagi Mahyunadi, pembangunan ekonomi Kutim ke depan harus diarahkan pada kemandirian. Daerah perlu memiliki sumber pertumbuhan baru agar tidak terlalu dipengaruhi oleh perubahan anggaran pemerintah maupun fluktuasi komoditas global.

“Pertumbuhan ekonomi harus punya dasar yang kuat. Kita ingin masyarakat merasakan dampaknya, bukan hanya melihat angkanya dalam laporan,” ujarnya.

Melalui penguatan sektor produktif dan investasi, Pemkab Kutim berharap pertumbuhan ekonomi ke depan dapat berjalan lebih stabil. Tantangannya adalah memastikan setiap kebijakan pembangunan mampu menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. (ADV/ProkopimKutim/BK)

 

Post Views: 329
WebNesia

WebNesia

Next Post
Masuk Kampus Kehidupan, 53 Mahasiswa STIPER Dilepas ke Kaubun

Masuk Kampus Kehidupan, 53 Mahasiswa STIPER Dilepas ke Kaubun

Perkuat Hubungan Kerja, Buruh Kutim Minta Lembaga Tripartit Kembali Aktif

Perkuat Hubungan Kerja, Buruh Kutim Minta Lembaga Tripartit Kembali Aktif

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved