SANGKULIRANG – RSUD Sangkulirang kini menghadirkan layanan operasi katarak modern tanpa jahitan, atau phacoemulsifikasi, yang menjadi inovasi penting dalam Program Pelayanan Mata Paripurna. Langkah ini menegaskan posisi rumah sakit sebagai rujukan utama kesehatan di wilayah pesisir Kutai Timur (Kutim).
Direktur RSUD Sangkulirang, dr. Azizah bin Smith, mengatakan layanan ini mampu mempersingkat waktu operasi dan pemulihan pasien. “Dengan phacoemulsifikasi, pasien bisa pulang pada hari yang sama, dan proses penyembuhan hanya sekitar satu minggu. Berbeda dengan metode konvensional yang memerlukan rawat inap lebih lama,” ujarnya.
Selain layanan mata, RSUD Sangkulirang kini memiliki delapan dokter spesialis dari berbagai bidang. Dua di antaranya ASN spesialis bedah dan mata, lima dokter kontrak (anak, penyakit dalam, kandungan, anestesi, dan patologi klinik), serta satu dokter radiologi paruh waktu. Formasi ini memperkuat layanan spesialis dasar sekaligus menghadirkan keunggulan baru pada layanan mata.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menekankan pembangunan sektor kesehatan tidak hanya fokus di pusat kabupaten. “RSUD Sangkulirang sudah menjadi rujukan utama di pesisir. Kami berkomitmen memperkuatnya secara bertahap, termasuk dokter keliling ke wilayah terpencil,” kata Ardiansyah.
Keberadaan alat phacoemulsifikasi yang didanai APBD mengakhiri ketergantungan masyarakat pada bakti sosial yang tidak rutin. Warga pesisir kini bisa mengakses layanan mata secara terjadwal dan berkelanjutan.
Selain operasi katarak, rumah sakit juga memperkenalkan teknologi USG 4D dan ruang Central Sterile Supply Department (CSSD) untuk menjamin kebersihan instrumen medis. Dengan layanan modern ini, diharapkan angka kebutaan akibat katarak di pesisir Kutim menurun, produktivitas masyarakat meningkat, dan kualitas hidup warga tetap terjaga. (ADV/ProkopimKutim/BK)


