Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Pariwara Pemkab Kutai Timur

TPK Kutim Bergerak dari Rumah ke Rumah, Perkuat Upaya Cegah Stunting Sejak Dini

Penanganan stunting di Kutai Timur terus diperkuat melalui peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bekerja langsung di tengah masyarakat. Dengan pendekatan edukasi dan pendampingan keluarga, para kader menjadi penghubung penting antara program pemerintah dan kebutuhan warga di tingkat rumah tangga.

WebNesia by WebNesia
25 Juli 2026
Reading Time: 3 mins read
0
TPK Kutim Bergerak dari Rumah ke Rumah, Perkuat Upaya Cegah Stunting Sejak Dini
Share on FacebookShare on WhatsApp

SANGATTA — Upaya menekan angka stunting membutuhkan kerja bersama yang dimulai dari lingkungan paling kecil, yaitu keluarga. Di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), langkah tersebut dijalankan melalui peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang turun langsung mendampingi masyarakat, terutama kelompok yang memiliki risiko mengalami masalah tumbuh kembang anak.

Para kader TPK menjadi bagian penting dalam memastikan edukasi mengenai kesehatan, pengasuhan, dan pemenuhan gizi dapat diterima masyarakat. Mereka mendatangi rumah warga, melakukan komunikasi dengan keluarga, serta membantu memastikan intervensi berjalan sejak masa awal kehidupan anak.

Peran tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi bertajuk “Peran Tim Pendamping Keluarga dalam Percepatan Penurunan Stunting” yang digelar di Room Podcast Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim.

Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim Ani Saidah mengatakan, stunting memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan persoalan pertumbuhan fisik anak. Kondisi tersebut berkaitan dengan kualitas perkembangan anak dalam jangka panjang.

“Ini adalah fenomena gagal tumbuh yang merusak perkembangan otak dan kecerdasan, yang pada akhirnya membebani kesehatan anak di masa depan. Sebagai isu nasional, penanganannya memerlukan pendekatan yang menyentuh akar masalah, yaitu keluarga,” ujar Ani.

Menurutnya, keluarga menjadi titik awal dalam pencegahan stunting. Karena itu, DPPKB Kutim memperkuat strategi pendampingan melalui TPK yang terdiri dari unsur bidan, kader PKK, dan kader keluarga berencana (KB).

Pendampingan tersebut difokuskan pada masa 1.000 hari pertama kehidupan yang menjadi periode penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Ani menjelaskan, pemerintah daerah terus berupaya menjaga kualitas pendampingan melalui peningkatan kapasitas kader. Salah satunya dilakukan dengan memberikan bimbingan teknis secara berkala agar para kader memiliki pemahaman yang semakin baik saat memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Mereka bekerja dengan semangat kesukarelaan. Karena itu, dukungan kapasitas dan fasilitas menjadi prioritas kami agar edukasi yang sampai ke masyarakat tetap berkualitas,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, TPK mendampingi empat kelompok yang menjadi sasaran utama, yakni calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca-persalinan, serta keluarga yang memiliki balita hingga usia 59 bulan.

Pendekatan yang digunakan dilakukan secara langsung melalui kunjungan dari rumah ke rumah. Cara tersebut dinilai efektif karena memungkinkan kader melihat kondisi keluarga secara lebih dekat sekaligus memahami kendala yang dihadapi masyarakat.

Namun, perjalanan kader di lapangan tidak selalu mudah. Pejabat Fungsional Teknik (JFT) KKB DPPKB Kutim Sulawati mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah membangun kesadaran masyarakat.

Menurutnya, masih ada sebagian warga yang belum memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin maupun kehadiran di posyandu.

“Ada kalanya warga menganggap posyandu tidak penting. Di sinilah militansi kader diuji. Mereka harus kreatif, melakukan pendekatan persuasif, hingga berkolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk meyakinkan orang tua bahwa kehadiran mereka adalah untuk membantu, bukan menggurui,” tutur Sulawati.

Untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat, sejumlah inovasi mulai dilakukan. Posyandu diarahkan menjadi ruang pelayanan yang lebih nyaman dengan menghadirkan suasana ramah anak serta metode edukasi yang lebih interaktif bagi orang tua.

Bagi pemerintah daerah, keberhasilan penurunan stunting tidak hanya ditentukan oleh program yang dirancang dari tingkat pemerintahan, tetapi juga oleh keterlibatan keluarga dalam menerapkan pola hidup sehat dan pengasuhan yang tepat.

Sulawati mengajak masyarakat untuk membuka ruang komunikasi dengan para kader yang datang memberikan pendampingan.

“Jangan anggap kader sebagai tamu asing. Bukalah pintu, karena setiap edukasi yang mereka bawa adalah investasi untuk masa depan anak-anak kita,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga pendamping, tenaga kesehatan, dan keluarga, Kutim berharap upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih kuat. Dari pendampingan sederhana di tingkat rumah tangga, diharapkan lahir generasi yang lebih sehat dan siap menghadapi masa depan. (ADV/ProkopimKutim/BK))

 

Post Views: 432
WebNesia

WebNesia

Next Post
Menanam Ilmu di Desa, Mahasiswa STIPER Kutim Dorong Inovasi Pertanian Masyarakat

Menanam Ilmu di Desa, Mahasiswa STIPER Kutim Dorong Inovasi Pertanian Masyarakat

Suara Milfian Menggetarkan Puncak HAN Kutim

Suara Milfian Menggetarkan Puncak HAN Kutim

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved