
Kutai Timur — Kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi utama Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur (Kutim) dalam menjalankan dua agenda besar, yakni pemberdayaan lansia dan percepatan penurunan stunting. Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menegaskan bahwa kedua program tersebut tidak dapat berjalan tanpa sinergi kuat antarperangkat daerah.
Dalam pernyataannya setelah menghadiri Paripurna HUT ke-26 Kutim di DPRD, Junaidi menekankan pentingnya kerja sama lintas lembaga dalam menciptakan penduduk Kutai Timur yang sehat, produktif, dan sejahtera. Pada kelompok usia dewasa, program Sekolah Lansia menjadi prioritas untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
“Penduduk yang berkualitas itu tidak boleh menganggur atau stres. Sekolah Lansia dirancang agar para lansia tetap aktif, bangga, dan bahagia di usia mereka,” jelasnya.
Program Sekolah Lansia ini berjalan selama satu tahun dan melibatkan Dinas Pendidikan melalui PKBM dan lembaga kursus. Guru, pamong, hingga laboratorium keterampilan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produktif peserta.
Di sisi lain, upaya menurunkan prevalensi stunting yang masih di angka 26 persen dilakukan secara simultan melalui pemetaan keluarga berisiko berdasarkan data KRS. Jumlah keluarga risiko tinggi ditargetkan turun dari 19.000 menjadi 11.000 sesuai arahan peraturan daerah. Kecamatan dengan jumlah risiko tertinggi adalah Sangatta Utara dan Bengalon.
Intervensi dilakukan berdasarkan faktor “4T”: Terlalu Dekat, Terlalu Muda, Terlalu Banyak, dan Terlalu Tua. Tim pendamping keluarga diarahkan untuk memberikan edukasi tentang pentingnya beralih ke KB modern agar keluarga dapat merencanakan kelahiran dengan aman.
Dalam pencegahan stunting, kolaborasi lintas sektor terlihat melalui integrasi program 1.000 Rumah Layak Huni (RLH) yang memastikan sanitasi layak bagi keluarga berisiko. Sementara itu, PDAM Kutim memberikan dukungan dengan menyediakan air bersih gratis bagi keluarga kurang mampu.
Melalui sinergi tersebut, DPPKB meyakini upaya peningkatan kualitas kesejahteraan masyarakat Kutim, baik lansia maupun keluarga muda, dapat dijalankan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan. (ADV)


