SANGATTA – Api yang terlihat padam belum tentu benar-benar mati. Di balik tumpukan ranting atau permukaan tanah yang menghitam, bara kecil masih bisa bertahan. Ketika angin datang dan kondisi cukup kering, api dapat muncul kembali.
Pengalaman itu menjadi salah satu catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) beberapa waktu terakhir.
Kepala BPBD Kutim Sulastin mengatakan, perkembangan terbaru sebenarnya menunjukkan kondisi yang membaik. Kemunculan titik panas atau hotspot berangsur menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Jika sebelumnya petugas rata-rata mendapati empat hingga lima titik api dalam sehari, pemantauan terakhir menunjukkan jumlah tersebut turun menjadi sekitar dua titik.
Penurunan itu memberi sedikit ruang bagi petugas yang selama beberapa waktu terakhir berjibaku melakukan pemantauan dan pemadaman. Namun, kewaspadaan belum boleh diturunkan.
Hingga 22 Agustus 2026, BPBD mencatat luas lahan terdampak karhutla di Kutim telah mencapai 68,3 hektare. Angka tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan dan verifikasi laporan dari sejumlah kecamatan terus berjalan.
Data perkembangan karhutla itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla yang dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perangkat terkait serta perwakilan perusahaan.
Sulastin mengatakan, salah satu persoalan yang perlu diwaspadai adalah munculnya kembali api di lokasi yang sebelumnya dianggap telah selesai ditangani.
Pernah terjadi sebuah titik api ditinggalkan setelah kondisi dinilai aman. Namun, bara yang ternyata belum sepenuhnya mati kembali merambat. Tim gabungan yang sudah meninggalkan lokasi akhirnya harus kembali melakukan pemadaman.
Kejadian seperti itu menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya membuat kobaran api hilang dari pandangan.
Petugas harus memastikan tidak ada bara tersisa yang berpotensi hidup kembali. Terlebih dalam kondisi panas dan kering, ketika vegetasi di sekitarnya lebih mudah terbakar.
Untuk mempercepat respons, posko utama penanggulangan karhutla telah disiagakan di Kantor BPBD Kutim. Posko tersebut menjadi pusat koordinasi informasi, personel maupun kebutuhan peralatan ketika laporan titik api masuk.
Penguatan serupa dilakukan hingga tingkat kecamatan. Sangatta Selatan, misalnya, telah membentuk posko di kantor kecamatan sebagai bagian dari rantai penanganan di wilayah.
BPBD juga terus menginventarisasi peralatan yang tersedia sekaligus meminta seluruh pemerintah kecamatan segera membentuk posko operasional siaga karhutla. Dengan luas wilayah Kutim yang mencapai puluhan ribu kilometer persegi, keberadaan posko di kecamatan menjadi penting agar penanganan tidak seluruhnya menunggu pergerakan personel dari Sangatta.
Semakin dekat petugas dengan lokasi kejadian, semakin cepat pula api dapat ditangani sebelum merembet lebih jauh.
Penanganan di lapangan turut melibatkan unsur TNI dan Polri. Dandim 0909/KTM Letkol Czi Zaenal Abidin dan Kapolres Kutim AKBP Aryansyah bersama jajaran masing-masing ikut mengawal pergerakan tim gabungan pada sejumlah lokasi yang membutuhkan penanganan.
Di tengah kerja petugas, laporan masyarakat juga punya peran yang tidak kecil. Informasi awal mengenai asap atau api yang terlihat di suatu kawasan kerap membantu petugas mengetahui kejadian lebih cepat.
Karena itu, masyarakat diminta tidak ragu melapor ketika menemukan indikasi kebakaran. Perusahaan yang beroperasi di wilayah Kutim juga diharapkan memperkuat kesiapan personel dan peralatan sehingga penanganan dapat dilakukan bersama ketika kebakaran terjadi di sekitar wilayah operasionalnya.
Turunnya jumlah hotspot menjadi perkembangan positif setelah serangkaian pemadaman dilakukan. Namun angka 68,3 hektare lahan terdampak menunjukkan bahwa ancaman karhutla belum benar-benar berlalu.
Bagi petugas, pekerjaan sekarang bukan sekadar mengejar api yang terlihat. Bara yang tertinggal pun harus dipastikan mati. Sebab dalam cuaca kering, satu titik yang luput diawasi bisa membuat tim kembali ke lokasi yang sama untuk kedua kalinya. (ADV/ProkopimKutim/BK)


