SANDARAN – Detak gendang tradisional bersahutan dari Balai Adat Desa Marukangan, Kecamatan Sandaran, Kamis (6/8/2026). Warga memenuhi ruangan, sebagian mengenakan busana adat Kutai. Di tengah suasana yang khidmat, rangkaian Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas kembali dilaksanakan sebagaimana tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Ritual tahunan tersebut menjadi salah satu cara masyarakat Marukangan mempertahankan hubungan dengan akar budaya mereka. Di dalamnya tersimpan nilai tentang hubungan manusia dengan sesama, lingkungan, serta penghormatan terhadap Sang Pencipta.
Kegiatan tersebut turut disaksikan Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman, Plt Camat Sandaran Mulyadi, Kepala Desa Marukangan Endi Haryanto, Ketua Pemangku Adat Kutai Kasmo, Ketua Panitia Awang, serta masyarakat setempat.
Salah satu bagian yang mendapat perhatian adalah prosesi pelas atau penyucian kampung. Dalam tradisi masyarakat setempat, ritual itu dimaknai sebagai ikhtiar memohon keselamatan sekaligus menjauhkan kampung dari berbagai hal buruk yang dapat mengganggu ketenteraman kehidupan masyarakat.
Makna tersebut kemudian bertemu dengan prosesi “embuang panas”. Secara simbolis, unsur “panas” dilepaskan dari kampung sebagai gambaran membuang perselisihan, marabahaya maupun berbagai hal yang dapat mengusik keharmonisan warga.
Pemuka adat memimpin prosesi dengan melantunkan pantun dan tuturan ritual yang diwariskan secara turun-temurun. Permohonan keselamatan, kehidupan yang tenteram dan kesuburan menjadi bagian dari pesan yang menyertai rangkaian tersebut.
Pantun dalam tradisi ini tidak hanya ditempatkan sebagai seni bertutur. Bagi masyarakat yang menjalankannya, pantun memiliki kedudukan dalam ritual dan menjadi bagian dari cara leluhur menyampaikan doa, petuah serta nilai kehidupan.
Iringan musik tradisional mengawal setiap tahap. Para tetua adat mengikuti prosesi dengan khusyuk, sementara warga menyaksikan rangkaian ritual dari dekat.
Di antara mereka terlihat pula generasi muda Marukangan. Kehadiran anak-anak dan pemuda menjadi bagian penting karena keberlangsungan sebuah tradisi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa lama ia telah bertahan, tetapi juga oleh ada atau tidaknya generasi yang bersedia meneruskannya.
Itulah yang membuat pelaksanaan Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas memiliki arti lebih luas daripada sebuah agenda budaya tahunan.
Modernisasi terus menjangkau wilayah pesisir Kutim. Aktivitas industri, pembangunan infrastruktur dan perubahan pola kehidupan masyarakat perlahan membentuk wajah baru kawasan. Namun, perubahan tersebut tidak harus membuat identitas lama menghilang.
Ketua Panitia Awang menilai Sandaran memiliki kekayaan budaya pesisir yang khas dan perlu terus dijaga. Tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat menjadi salah satu benteng agar identitas tersebut tidak tergerus perubahan zaman.
“Sandaran yang berhadapan langsung dengan laut memiliki kekayaan budaya pesisir yang sangat khas. Tradisi Erau seperti yang dilaksanakan masyarakat Marukangan menjadi bagian penting dalam menjaga identitas Kutai ketika perubahan zaman berlangsung begitu cepat,” ujar Awang.
Karena itu, pelestarian tidak cukup dilakukan hanya oleh pemangku adat. Dukungan pemerintah, masyarakat, generasi muda hingga berbagai pihak yang beraktivitas di sekitar desa dibutuhkan agar tradisi memiliki ruang untuk terus hidup.
Para tokoh adat pun berharap perhatian pemerintah terhadap kegiatan kebudayaan tetap berlanjut. Bagi mereka, pembangunan ekonomi dan infrastruktur penting untuk membawa kemajuan, tetapi kebudayaan mempunyai fungsi berbeda yang tidak dapat digantikan oleh pembangunan fisik.
Tradisi menjadi ruang yang mengikat ingatan, identitas dan solidaritas masyarakat.
“Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas menunjukkan bahwa kebudayaan lokal masih hidup. Selama masyarakat terus merawat dan mewariskannya, tradisi ini akan tetap menjadi bagian dari kehidupan Marukangan,” tutur Awang.
Hari itu, gendang boleh berhenti ketika prosesi berakhir. Namun, nilai yang dibawanya diharapkan tidak ikut selesai. Dari para tetua kepada generasi muda, Marukangan sedang menjaga agar warisan leluhur tetap menemukan tempatnya di tengah zaman yang terus berubah. (ADV/ProkopimKutim/BK)


