SAMARINDA — Empat pelajar asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengikuti Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) tingkat Provinsi Kalimantan Timur 2026 yang berlangsung di Hotel Five Samarinda, Selasa (11/8/2026).
Mereka menjadi bagian dari 27 peserta yang berasal dari tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Ajang tersebut mengusung tema “Inovasi Teknologi dan Etika Transportasi sebagai Manifestasi Keselamatan Jalan di Era Digital”.
Bagi Dinas Perhubungan (Dishub) Kutim, keikutsertaan pelajar dalam kegiatan tersebut bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran keselamatan transportasi sejak bangku sekolah.
Sekretaris Dishub Kutim Masrianto Suriansyah mengatakan, empat peserta tersebut merupakan hasil seleksi yang telah dilakukan oleh Bidang Pengembangan dan Keselamatan Dishub Kutim sejak awal tahun.
“Alhamdulillah, Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Perhubungan dapat mengirim empat peserta pelajar kita untuk berkompetisi bersama pelajar pelopor dari kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Timur,” ujar Masrianto.
Ia menjelaskan, jumlah peserta yang dikirim tahun ini menyesuaikan kondisi anggaran daerah. Meskipun jumlahnya terbatas, program Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ tetap menjadi bagian dari upaya Dishub Kutim dalam memberikan edukasi keselamatan transportasi kepada generasi muda.
“Ini juga karena efisiensi anggaran APBD kita, sehingga kita hanya bisa mengirim empat peserta,” jelasnya.
Menurut Masrianto, pemahaman mengenai keselamatan jalan perlu ditanamkan sejak usia pelajar. Hal tersebut penting karena pelajar merupakan bagian dari pengguna jalan, baik sebagai pejalan kaki, pengguna kendaraan, maupun penumpang kendaraan umum.
“Pelajar pelopor ini bagian dari tugas pokok dan tanggung jawab Dinas Perhubungan, bagaimana kita memberikan sosialisasi di tingkat pelajar terkait dengan keselamatan,” katanya.
Ia menilai kebiasaan tertib berlalu lintas tidak dapat dibangun secara instan ketika seseorang telah dewasa. Kesadaran terhadap aturan, etika berkendara, serta kepedulian terhadap pengguna jalan lain perlu dibentuk sejak dini agar menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
“Keselamatan transportasi itu harus sejak usia pelajar disematkan kepada adik-adik kita,” ujarnya.
Program Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Para peserta sebelumnya mengikuti proses seleksi dengan melibatkan sekolah dan guru bimbingan konseling (BK).
Melalui proses tersebut, pelajar yang terpilih diharapkan tidak hanya mampu berkompetisi, tetapi juga menjadi penyampai pesan keselamatan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Peran pelajar sebagai agen edukasi keselamatan dinilai semakin penting di tengah perkembangan teknologi transportasi. Kemudahan mobilitas melalui berbagai inovasi digital harus diiringi dengan pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab pengguna jalan.
Selain membangun kesadaran keselamatan, Dishub Kutim juga melihat program tersebut sebagai salah satu jalur pengembangan potensi pelajar di bidang transportasi.
Masrianto berharap para peserta dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah kedinasan bidang perhubungan. Harapan tersebut didukung dengan kerja sama yang telah dibangun Pemerintah Kabupaten Kutim melalui nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama dengan institusi pendidikan kedinasan.
Dalam kerja sama tersebut, Kutim memperoleh kuota 10 siswa taruna untuk pendidikan kedinasan perhubungan.
“Harapan kami adik-adik kita dari Kutai Timur bisa melanjutkan pendidikan ke kedinasan perhubungan di tahun depan. Dalam MoU dan kerja sama tersebut, Kutai Timur mendapatkan 10 kuota siswa taruna,” ungkap Masrianto.
Karena itu, ia mendorong para peserta untuk tetap menjaga prestasi akademik sebagai bekal melanjutkan pendidikan.
“Harapan kita adik-adik ini bisa langsung melanjutkan ke depan, tentu dengan prestasi dan akademik yang baik,” pungkasnya.
Dalam seleksi tingkat provinsi, peserta mendapatkan pembekalan dari Direktorat Lalu Lintas Polda Kaltim, Dishub Provinsi Kaltim, serta Jasa Raharja Kaltim. Dari 27 peserta yang mengikuti seleksi, nantinya akan dipilih dua pelajar terbaik untuk mewakili Kalimantan Timur pada tingkat nasional.
Bagi Kutim, keikutsertaan empat pelajar tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya keselamatan jalan dari generasi muda. Sebab, keselamatan lalu lintas pada akhirnya tidak hanya bergantung pada aturan yang tertulis, tetapi juga pada kesadaran setiap pengguna jalan untuk mematuhinya. (ADV/ProkopimKutim/BK)


