SANGATTA – Ribuan tahun telah berlalu sejak Nabi Muhammad SAW membangun kehidupan masyarakat di Madinah. Namun, bagi Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman, cara Rasulullah memimpin, menjaga keberagaman dan menjalankan amanah tetap memiliki relevansi bagi aparatur pemerintahan hari ini.
Pesan tersebut disampaikan Ardiansyah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Masjid Agung Al Faruq, Bukit Pelangi, Rabu (26/8/2026).
Peringatan yang diselenggarakan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Kabupaten Kutim itu mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW untuk Membangun Pribadi yang Beriman, Berilmu, dan Berakhlak Mulia”.
Di hadapan pejabat dan Aparatur Sipil Negara (ASN), Ardiansyah mengingatkan bahwa sosok Nabi Muhammad SAW tidak hanya dapat dipelajari dari sisi kenabian. Dalam perjalanan hidupnya, Rasulullah juga menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin yang mengatur kehidupan masyarakat.
“Beliau adalah pemimpin pemerintahan, beliau adalah kepala negara, beliau adalah sosok teladan yang beriman. Beliau juga mengharapkan para pejabat di tempatnya untuk melaksanakan tugas dengan baik,” ujar Ardiansyah.
Menurutnya, salah satu pelajaran penting dapat ditemukan ketika Rasulullah memimpin masyarakat Madinah yang dihuni kelompok dengan latar belakang suku maupun agama yang beragam.
Piagam Madinah menjadi salah satu contoh bagaimana kehidupan bersama dibangun melalui kesepakatan, penghormatan dan tanggung jawab untuk menjaga kedamaian. Nilai tersebut dinilai tetap penting ketika pemerintah menghadapi masyarakat dengan kebutuhan dan latar belakang yang berbeda-beda.
Karena itu, Ardiansyah mengajak pejabat hingga staf di lingkungan Pemkab Kutim untuk meluangkan waktu membaca kembali sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Ajakan tersebut tidak disampaikannya sebagai perintah kedinasan, melainkan sebagai bahan untuk bercermin.
“Saya bukan menginstruksikan, bukan memerintah, tapi mohon dibaca, bacalah sejarah perjuangan Nabi Muhammad yang penuh dengan suri teladan,” katanya.
Dari sejarah itu, aparatur diharapkan tidak hanya menemukan kisah perjalanan Rasulullah, tetapi juga nilai yang dapat diterapkan ketika menjalankan pekerjaan. Mulai dari kejujuran, tanggung jawab, kepedulian hingga kesungguhan dalam menunaikan amanah.
Ardiansyah kemudian mengutip Surah At-Taubah ayat 105 mengenai perintah untuk bekerja. Menurutnya, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pekerjaan bukan sekadar rutinitas yang selesai ketika jam kantor berakhir, melainkan sesuatu yang harus dapat dipertanggungjawabkan.
“Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin menjadi saksi atas pekerjaannya. Oleh karenanya, Bapak, Ibu sekalian, mari nanti kita dengarkan apa yang disampaikan dan kita buka kembali lembaran-lembaran kehidupan beliau yang penuh dengan keindahan,” tuturnya.
Dalam konteks pemerintahan, nilai itu bermuara pada kualitas pengabdian. ASN memiliki tanggung jawab untuk memastikan pekerjaan yang dilakukan memberikan manfaat dan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
Karena itu, peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak selesai ketika tausiyah berakhir dan jamaah meninggalkan masjid. Ardiansyah menginginkan nilai yang didapat dari kegiatan tersebut ikut terbawa ke ruang kerja dan tercermin dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
“Mari kita jadikan momen ini sebagai semangat untuk kembali membentuk diri yang terbaik kepada bangsa, negara, dan daerah yang kita cintai, Kutai Timur,” pesannya.
Kepala Bagian Kesra Setkab Kutim Norhadi menjelaskan, peringatan Maulid Nabi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai keagamaan di lingkungan pemerintah daerah maupun masyarakat sekaligus mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Suasana Masjid Agung Al Faruq hari itu mempertemukan berbagai unsur masyarakat. Selain jajaran Pemkab dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), hadir pula perwakilan Kementerian Agama Kutim, organisasi perempuan, kelompok pengajian, pelajar, pengurus masjid, majelis taklim, organisasi kemasyarakatan Islam serta masyarakat Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.
Rangkaian kegiatan kemudian diisi tausiyah oleh Ustaz H Anwar Ashari. Jamaah diajak tidak berhenti pada kekaguman terhadap pribadi Rasulullah SAW, tetapi berusaha menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi aparatur pemerintahan, pesan itu memiliki ruang penerapan yang sangat dekat. Keteladanan dapat dimulai dari cara menjalankan amanah, memperlakukan masyarakat hingga mengambil keputusan. Dengan begitu, Maulid Nabi bukan sekadar mengenang perjalanan seorang pemimpin besar, tetapi menjadi kesempatan untuk bertanya kembali kepada diri sendiri: sudah sejauh mana amanah dijalankan dengan baik. (ADV/ProkopimKutim/BK)


