SANGATTA SELATAN – Ada makna tersendiri ketika tiang utama Lamin Adat Dayak di Dusun Rindang Benua KM 10, Kecamatan Sangatta Selatan, mulai ditegakkan. Tiang itu tidak berdiri oleh satu tangan. Masyarakat, tokoh adat, pemerintah dan perusahaan menarik serta mendirikannya bersama-sama.
Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya pembangunan Lamin Adat Rindang Benua. Sebelum tiang utama dipasang, warga dan para undangan terlebih dahulu mengikuti ramah tamah serta doa bersama.
Pembangunan Lamin mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya PT Kaltim Prima Coal (KPC) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR tahun 2026. Masyarakat setempat juga terlibat melalui swadaya dan gotong royong dalam proses pengerjaan.
Kelak, bangunan itu tidak hanya diproyeksikan menjadi tempat berlangsungnya musyawarah maupun kegiatan adat. Masyarakat berharap Lamin menjadi rumah bagi berbagai aktivitas kebudayaan Dayak sekaligus salah satu penanda identitas Rindang Benua.
Deputi General Manager External Affairs and Sustainable Development (ESD) KPC M Munir Zein Damar mengatakan, pembangunan Lamin memiliki arti penting bagi upaya menjaga budaya masyarakat Dayak di kawasan tersebut.
Bagi Damar, cara tiang utama didirikan bahkan sudah menggambarkan semangat yang ingin dibawa dalam pembangunan Lamin, yakni dikerjakan bersama dan menjadi milik bersama.
“Tiang ini kita dirikan sebagai bentuk gotong royong dan semangat persatuan. Kita tarik bersama-sama, kita dirikan bersama-sama, sehingga masing-masing memiliki andil dalam pembangunan tiang utama,” ujarnya.
Gotong royong itu diharapkan tidak berhenti ketika bangunan selesai. Justru setelah Lamin berdiri, pekerjaan berikutnya adalah memastikan tempat tersebut tetap ramai oleh aktivitas masyarakat.
Damar tidak ingin Lamin akhirnya hanya menjadi bangunan besar yang sesekali dibuka ketika ada seremoni. Kesenian, kerajinan, pertemuan adat dan berbagai aktivitas kebudayaan perlu terus dihidupkan agar keberadaannya benar-benar memiliki fungsi.
“Harapannya nanti di sini akan hidup, tidak hanya sekadar seremonial mendirikan bangunan Lamin. Setelah itu juga ada keberlanjutan yang membuat daerah ini menjadi sentra budaya Dayak yang bisa menjadi tujuan wisata,” katanya.
Jika aktivitas budaya tumbuh, manfaatnya dinilai dapat menjalar ke sektor ekonomi. Wisatawan yang datang tidak hanya menyaksikan pertunjukan atau mengenal tradisi Dayak, tetapi juga dapat membeli kerajinan maupun produk yang dihasilkan masyarakat.
“Secara tidak langsung akan menghidupkan ekonomi warga dari kesenian dan kerajinan yang ditawarkan di sini,” lanjut Damar.
Potensi itulah yang membuat pembangunan Lamin memiliki dimensi lebih luas daripada sekadar penyediaan fasilitas adat. Rindang Benua memiliki kesempatan mengembangkan identitas kawasan sebagai kampung budaya yang tetap berakar pada kehidupan masyarakat setempat.
Damar juga memaknai nama Rindang Benua sebagai gambaran sebuah rumah yang teduh dan menenteramkan. Semangat itu diharapkan ikut tercermin ketika Lamin nantinya digunakan.
Artinya, meski kuat dengan identitas Dayak Kenyah, Lamin diharapkan tetap menjadi ruang yang terbuka dalam kehidupan masyarakat Rindang Benua yang beragam. Kebudayaan tidak ditempatkan sebagai pembatas, tetapi sebagai ruang perjumpaan.
Harapan besar juga disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kutim M Ayub. Sebagai salah seorang tokoh masyarakat Dayak, ia mengapresiasi keterlibatan KPC dalam pembangunan Lamin tersebut.
Ayub melihat Rindang Benua memiliki peluang berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan budaya Dayak di Kalimantan Timur. Bahkan, ia menyimpan harapan suatu saat kegiatan adat berskala lebih besar dapat digelar di sana.
“Suatu saat nanti Dusun Rindang Benua akan menjadi tuan rumah pesta adat di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara,” ungkap Ayub.
Menurutnya, ukuran dan karakter bangunan Lamin yang direncanakan juga dapat menjadikannya salah satu ikon kawasan. Potensi itu sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengembangkan kebudayaan sebagai bagian dari daya tarik pariwisata daerah.
“Lamin Adat ini merupakan bangunan yang sangat besar dan ikoniknya sangat tinggi serta mendukung program Pemerintah Kutai Timur. Saya berharap peran pemerintah, perusahaan swasta serta masyarakat untuk dapat berpartisipasi, bekerja sama, bergotong royong, dan kompak selalu,” tuturnya.
Namun, menjadikan Rindang Benua sebagai tujuan wisata budaya tentu tidak selesai dengan mendirikan sebuah bangunan. Lamin membutuhkan kegiatan yang rutin, pelaku seni yang terus berkarya, kerajinan yang berkembang, serta masyarakat yang tetap menjadi pemilik utama kehidupan budaya tersebut.
Karena itulah keterlibatan warga sejak tahap pembangunan memiliki arti penting. Tenaga swadaya dan gotong royong membuat Lamin tidak hadir sebagai bangunan yang sekadar diberikan kepada masyarakat, melainkan tumbuh bersama keterlibatan mereka sendiri.
Pemerintah Kabupaten Kutim menyambut kolaborasi tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus pengembangan potensi pariwisata. Jika dikelola secara konsisten, Lamin dapat menjadi tempat tradisi diwariskan sekaligus ruang ekonomi baru bagi warga.
Prosesi pemasangan tiang utama turut dihadiri Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, perwakilan Desa Pinang Raya, Kepala Dusun Rindang Benua Sekimin, tokoh adat, masyarakat serta jajaran manajemen KPC.
Hari itu baru satu tahapan pembangunan dimulai. Namun, harapan masyarakat Rindang Benua sudah melampaui berdirinya sebuah rumah adat. Mereka ingin Lamin menjadi tempat anak-anak mengenal budayanya, kesenian tetap mempunyai panggung, warga memperoleh peluang ekonomi, dan orang dari luar memiliki alasan untuk datang mengenal Rindang Benua lebih dekat. (ADV/ProkopimKutim/BK)


