SANGATTA – Semangat peduli lingkungan yang ditunjukkan anak-anak di Kutai Timur (Kutim) terus berlanjut setelah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada bulan Juni lalu. Memasuki Oktober 2025, berbagai sekolah masih aktif menjalankan kampanye “Hentikan Sampah Plastik” dengan kegiatan rutin seperti membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja ramah lingkungan, serta menciptakan karya kreatif berupa poster dan vlog yang mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Dewi Dohi, menegaskan bahwa gerakan yang awalnya berupa lomba kini telah berkembang menjadi budaya di sekolah-sekolah.
“Kami melihat banyak sekolah menjadikan kegiatan ini sebagai kebiasaan. Ini bukan hanya lomba sesaat, tetapi benar-benar dilanjutkan dalam keseharian anak-anak,” ungkap Dewi beberapa pekan lalu.
Dewi juga menambahkan bahwa peran orang tua dan guru semakin kuat dalam mendukung gerakan ini. Beberapa sekolah bahkan telah menyiapkan bank sampah sederhana, dan siswa dilatih untuk memilah sampah organik dan anorganik.
Elia Sofia, seorang orang tua murid, mengaku bangga dengan perubahan yang terjadi. “Anak saya tidak hanya paham soal sampah, tetapi juga berani menegur kami di rumah jika masih menggunakan plastik sekali pakai. Jadi, efeknya terasa nyata,” ujarnya.
Gerakan ini sejalan dengan kampanye global “Beat Plastic Pollution” yang menekankan pentingnya mengurangi pencemaran plastik. Data terbaru dari KLHK menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah per tahun, dengan 17 persen di antaranya berupa plastik. Kutim pun menghadapi ancaman serupa, sehingga meningkatkan kesadaran sejak usia dini dianggap langkah strategis.
DLH Kutim menargetkan program Sekolah Bebas Plastik dapat diterapkan secara bertahap mulai tahun depan. Dengan dukungan generasi muda, Pemkab berharap upaya ini dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas, melibatkan keluarga, komunitas, hingga dunia usaha di Kutim.
“Harapan kami, budaya ramah lingkungan ini tidak berhenti di ruang kelas. Harus menular ke rumah, pasar, kantor, bahkan ruang publik,” tegas Dewi.
Momentum ini menandakan bahwa perjuangan melawan sampah plastik di Kutim bukan lagi sekadar wacana tahunan, melainkan gerakan nyata yang tumbuh dari anak-anak untuk masa depan bumi yang lebih lestari.(ADV/ProkopimKutim/BK)


