
SANGATTA – Komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam mewujudkan pembangunan yang adil dan merata kini semakin diperkuat. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan perencanaan anggaran yang terukur.
Strategi ini berfokus pada pemetaan kebutuhan riil di lapangan, memastikan bahwa alokasi anggaran daerah benar-benar memberikan dampak signifikan, terutama bagi wilayah-wilayah yang selama ini kurang sentuhan. Upaya ini terus dilakukan agar pembangunan yang berkeadilan dapat diwujudkan.
Pendataan komprehensif sebagai kunci keberhasilan
Anggota DPRD Kutim dari Partai Demokrat, Akhmad Sulaeman, menekankan bahwa langkah awal yang fundamental adalah mengidentifikasi secara menyeluruh daerah mana saja yang paling membutuhkan dukungan. Hal ini merupakan bagian dari langkah strategis dalam perencanaan anggaran untuk daerah.
Proses pendataan yang komprehensif ini dinilai krusial untuk memastikan alokasi sumber daya dapat tepat sasaran dan efektif. Sulaeman menjelaskan bahwa fokus utama pemetaan adalah pada aspek sarana, prasarana, maupun kebutuhan tenaga.
“Kalau kita melihat itu pertama kita harus melakukan pemetaan daerah-daerah yang membutuhkan, misalnya itu tenaga atau sarana prasarana,” ujar Sulaeman.
Memastikan anggaran terfokus pada titik kebutuhan
Setelah proses pemetaan selesai, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa penganggaran difokuskan berdasarkan hasil identifikasi tersebut. Pendekatan ini bertujuan menjadikan penggunaan anggaran menjadi lebih optimal dan berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan di lapangan.
Sulaeman menambahkan, “Kalau sudah dilakukan pemetaan, mungkin penganggarannya difokuskan ke daerah-daerah tersebut.”
Usulan yang berlandaskan data ini merupakan respons atas masih adanya ketimpangan dalam pembangunan antar daerah. Melalui sistem pemetaan yang baik, anggaran dapat dialokasikan secara lebih proporsional sesuai dengan tingkat kebutuhan masing-masing wilayah.
Pendekatan berbasis data ini diyakini dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah ketidakmerataan pembangunan, khususnya di daerah-daerah pelosok yang selama ini kerap kesulitan mendapatkan akses yang memadai. (ADV)


