Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Pariwara Pemkab Kutai Timur

55 Tahun Miau Baru, UFAH Menjaga Akar dan Menyambung Generasi

Lima puluh lima tahun perjalanan Desa Miau Baru tidak membuat masyarakat Dayak Kayan menjauh dari akarnya. Melalui Festival UFAH 2026, syukur atas hasil bumi, penghormatan kepada leluhur, harapan bagi generasi penerus, dan kebersamaan lintas masyarakat bertemu dalam satu perhelatan. Di tengah perubahan zaman, tradisi tetap menjadi cara Miau Baru mengenali dirinya.

Redaksi by Redaksi
14 Agustus 2026
Reading Time: 3 mins read
0
55 Tahun Miau Baru, UFAH Menjaga Akar dan Menyambung Generasi
Share on FacebookShare on WhatsApp

KONGBENG — Alunan sape mengalir di antara keramaian. Hentakan kaki para penari menyusul dalam irama, sementara warga dengan busana adat memenuhi Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur (Kutim).

Hari itu, Miau Baru tidak hanya memperingati perjalanan desa yang telah memasuki usia 55 tahun. Masyarakat juga kembali membuka ruang bagi salah satu warisan yang mereka jaga dari generasi ke generasi melalui Festival UFAH 2026.

Bagi masyarakat Dayak Kayan, UFAH bukan sekadar panggung kesenian. Di dalamnya bertemu rasa syukur atas hasil bumi, ritual adat, kegembiraan, serta harapan agar nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu tidak terputus pada generasi sekarang.

Harapan terhadap masa depan bahkan hadir melalui salah satu prosesi yang melibatkan bayi laki-laki. Dalam pemaknaan adat yang disampaikan pada festival, keterlibatan anak-anak tersebut berkaitan dengan harapan terhadap lahirnya generasi penerus dan calon pemimpin.

Dengan demikian, perjalanan UFAH bergerak melampaui perayaan atas apa yang telah diwariskan. Festival juga berbicara tentang kepada siapa warisan itu kelak akan dititipkan.

Kehadiran berbagai unsur masyarakat semakin memperlihatkan dimensi tersebut. Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat dari berbagai paguyuban, unsur organisasi masyarakat seperti Simpekat Keroan dan Remaong Koetai Berjaya, hingga tokoh adat Jawa hadir dalam perhelatan.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman hadir bersama Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah dan Wakil Bupati Mahyunadi. Mereka membaur dalam rangkaian kegiatan yang diselenggarakan masyarakat.

Pertemuan berbagai latar belakang dalam satu ruang budaya menjadi relevan bagi Kutim yang masyarakatnya majemuk. Adat dalam konteks tersebut tidak hanya menjadi identitas komunitas pemiliknya, tetapi juga dapat membuka ruang perjumpaan dengan kelompok lain.

Ardiansyah menempatkan kebudayaan dalam posisi penting ketika berbicara mengenai pembangunan Kutim.

“Budaya merupakan tolok ukur pertama dan bangunan pertama dalam kita mengukur pembangunan Kutai Timur,” ujar Ardiansyah di sela kegiatan.

Menurutnya, kontribusi adat dan budaya menjadi semakin penting karena Kutim dihuni masyarakat dari beragam suku dan latar belakang. Kekayaan tersebut dapat berfungsi sebagai perekat sosial ketika masyarakat menghadapi perubahan yang terus berlangsung.

Pandangan itu menemukan bentuknya di Miau Baru. Tradisi tidak hanya ditampilkan sebagai sesuatu yang diwarisi dari masa silam, tetapi tetap dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sekarang.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi juga memberikan apresiasi terhadap konsistensi masyarakat Miau Baru mempertahankan identitas budayanya. Ia berharap Festival UFAH yang telah menjadi bagian dari agenda tahunan daerah dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan.

Keberlanjutan menjadi kata penting karena sebuah festival pada akhirnya hanya berlangsung beberapa hari. Sementara pekerjaan menjaga budaya berlangsung jauh lebih panjang, bahkan melintasi generasi.

Di Miau Baru, upaya tersebut terlihat melalui beragam ekspresi. Prosesi adat tetap dijalankan, tarian Kayan dipertunjukkan, musik tradisional dimainkan, permainan masyarakat kembali diperkenalkan, sementara generasi muda memperoleh kesempatan menyaksikan dan terlibat secara langsung.

Festival juga tumbuh dari gotong royong warga. Kepala Desa Miau Baru Luis Langet menyampaikan apresiasi kepada panitia, peserta, donatur serta masyarakat yang bersama-sama menopang penyelenggaraan kegiatan.

Kebersamaan itu menjadi salah satu kekuatan yang membuat tradisi tetap memiliki ruang. Sebab, pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada tokoh adat ataupun pemerintah, tetapi juga pada kesediaan masyarakat untuk terus menjalankannya.

Camat Kongbeng Petrus Ipung turut mengajak masyarakat menjaga dukungan terhadap pembangunan daerah sembari mempertahankan kebudayaan yang menjadi identitas mereka.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan dan pelestarian tradisi tidak harus ditempatkan pada dua sisi yang berlawanan. Kemajuan dapat berjalan tanpa meminta masyarakat meninggalkan akar budayanya.

Justru dari identitas yang kuat, masyarakat memiliki pijakan ketika menghadapi perubahan. Tradisi memberikan ingatan tentang asal-usul, sementara pendidikan dan pembangunan membuka jalan menuju masa depan.

Festival UFAH berada di antara keduanya.

Pada satu sisi, masyarakat kembali kepada jejak para leluhur melalui ritual, kesenian dan berbagai simbol budaya. Pada sisi lain, anak-anak dan generasi muda berada di tengah perhelatan sebagai mereka yang kelak akan menentukan apakah warisan tersebut terus hidup atau perlahan menjadi sekadar cerita.

Peringatan 55 tahun Desa Miau Baru membuat pertemuan masa lalu dan masa depan itu terasa semakin kuat. Usia desa bertambah, kehidupan berubah, dan generasi berganti. Namun, masyarakat tetap menyediakan tempat bagi tradisi yang turut membentuk perjalanan mereka.

Karena itu, ketika rangkaian Festival UFAH 2026 berakhir, yang tersisa tidak semata panggung yang kembali lengang atau musik yang berhenti dimainkan.

Ada pesan yang dibawa pulang: menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan apa yang diwariskan.

Di Miau Baru, masyarakat Dayak Kayan memilih menapaki masa depan sembari tetap mengenali jejak yang membawa mereka sampai hari ini. UFAH menjadi salah satu jalannya—tempat syukur dirayakan, persaudaraan dipertautkan, dan warisan leluhur dititipkan kepada generasi berikutnya. (ADV/ProkopimKutim/BK)

 

Post Views: 406
Redaksi

Redaksi

bacakaltim.com adalah portal berita digital yang berfokus pada menyajikan informasi terkini, tajam, dan terpercaya seputar Kalimantan Timur.

Next Post
Laten Tapi Nyata, Kurim Ajak Warga Waspadai Tikus Pembawa Hantavirus

Laten Tapi Nyata, Kurim Ajak Warga Waspadai Tikus Pembawa Hantavirus

Kuliah Tak Lagi Terbentur Jarak, Kutim Perluas Jalan Menuju Pendidikan Tinggi

Kuliah Tak Lagi Terbentur Jarak, Kutim Perluas Jalan Menuju Pendidikan Tinggi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved