Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result

Perahu Panjang Membelah Bahau, Tradisi Miau Baru Kembali Berpacu

Lebih dari 20 meter panjangnya, membawa sedikitnya 29 orang dalam satu perahu. Ketika perahu-perahu tradisional kembali diturunkan ke Sungai Bahau, yang dipertaruhkan bukan semata siapa paling cepat mencapai garis akhir. Festival UFAH 2026 sedang membawa satu lagi warisan Miau Baru kembali ke arus kehidupan.

Redaksi by Redaksi
12 Agustus 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Perahu Panjang Membelah Bahau, Tradisi Miau Baru Kembali Berpacu
Share on FacebookShare on WhatsApp

KONGBENG – Dari tepian Sungai Bahau, perahu-perahu panjang mulai dipersiapkan. Sebagian memiliki panjang lebih dari 20 meter. Puluhan orang nantinya berada dalam satu perahu, menyatukan tenaga dan irama untuk melaju di atas sungai.

Lomba perahu tradisional kembali menjadi bagian dari Festival UFAH 2026 di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng. Ini menjadi penyelenggaraan ketiga lomba tersebut. Kehadirannya bukan hanya menawarkan tontonan bagi masyarakat, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi yang tumbuh dari kedekatan warga dengan sungai.

Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman bersama Wakil Bupati Mahyunadi dan Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah serta perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut melihat persiapan lomba tersebut dalam rangkaian kunjungan ke Festival UFAH, beberapa hari lalu.

Camat Kongbeng Petrus Ivung mengatakan, pelaksanaan lomba tahun ini menyesuaikan waktu penyelenggaraan festival yang berakhir pada 12 Agustus 2026.

“Festival perahu tradisional ini sudah yang ketiga kalinya diadakan di Sungai Ufah,” ujar Petrus.

Tahun ini, empat perahu disiapkan untuk kategori putra. Kategori putri yang biasanya juga dapat dipertandingkan belum dilaksanakan karena keterbatasan waktu.

Meski jumlah peserta tidak banyak, karakter perahu yang diturunkan tetap menawarkan daya tarik tersendiri. Tidak ada ukuran yang benar-benar seragam. Perahu dibuat dan disiapkan masyarakat dengan ukuran berbeda sesuai tradisi dan kemampuan masing-masing kelompok.

“Panjang perahu bervariasi karena sifatnya tradisional, sesuai dengan keinginan warga masing-masing,” jelas Petrus.

Beberapa perahu berukuran relatif panjang berasal dari RT 1, RT 3 dan RT 7. Panjangnya bahkan dapat melampaui 20 meter dengan kapasitas paling sedikit sekitar 29 orang. Artinya, membawa perahu sebesar itu melintasi sungai membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan.Kekompakan menjadi kunci.

Puluhan orang di dalamnya harus menggerakkan perahu dalam irama yang sama. Sedikit ketidaksinkronan dapat memengaruhi laju maupun keseimbangannya. Di balik perlombaan itu tersimpan pula gambaran mengenai hubungan masyarakat Miau Baru dengan sungai.

Perahu bukan benda asing dalam kehidupan masyarakat. Dari generasi ke generasi, sungai dan perahu telah menjadi bagian dari mobilitas serta kehidupan komunitas di kawasan tersebut. Festival kemudian membawa kedekatan itu ke arena perlombaan.

Namun Sungai Bahau tahun ini menghadirkan tantangannya sendiri. Pelaksanaan berlangsung pada musim kemarau. Kondisi aliran sungai serta keberadaan kayu dan material di beberapa bagian membuat panitia harus melakukan sejumlah penyesuaian teknis.

Salah satu perahu dari RT 1, misalnya, tidak dapat begitu saja diturunkan tepat di lokasi perlombaan. Perahu harus dihanyutkan terlebih dahulu mengikuti aliran menuju bagian hilir sebelum diarahkan kembali ke titik yang telah ditentukan.

Panitia juga mengantisipasi kemungkinan perahu menghantam kayu yang berada di aliran sungai. Karena itu, perahu diarahkan terlebih dahulu sekitar 300 meter ke bagian hilir. Setelah melewati bagian yang dinilai berpotensi menghambat perjalanan, barulah perahu diarahkan menuju kawasan perlombaan.

Kondisi tersebut tidak menghilangkan karakter tradisional dari lomba. Justru sungai dengan segala sifat alaminya menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi peserta.

Festival UFAH sendiri dirancang berbeda dengan rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Desa Miau Baru. Menurut Petrus, UFAH memberikan porsi lebih besar kepada kebudayaan. Karena itu, perlombaan yang dihadirkan diarahkan pada permainan maupun olahraga tradisional masyarakat.

“Festival UFAH lebih mengarah kepada budaya. Jadi lomba-lomba yang diadakan adalah lomba tradisional,” katanya.

Sementara pertandingan olahraga modern seperti sepak bola dan bola voli lebih banyak ditempatkan dalam rangkaian perayaan hari jadi desa. Pada tahun ini, beberapa momentum bertemu dalam waktu yang hampir bersamaan. Festival UFAH berjalan bersama semangat pesta panen dan perayaan hari ulang tahun Desa Miau Baru. Pertemuan ketiganya membuat ruang perayaan menjadi lebih luas.

Masyarakat tidak sekadar berkumpul menyaksikan pertunjukan. Mereka merayakan hasil panen, hari perjalanan desanya, sekaligus memperlihatkan kembali tradisi yang menjadi bagian dari identitas komunitas.

Seluruh rangkaian Festival UFAH dipusatkan di kawasan yang dikenal masyarakat sebagai Taman Desa. Di kawasan itu pula berdiri Lamin Aruq yang menjadi salah satu penanda ruang kebudayaan dan kebersamaan masyarakat Miau Baru.

Di daratan, tarian, kesenian dan berbagai aktivitas festival berlangsung. Di sungai, perahu-perahu panjang mengambil perannya. Dua ruang itu bertemu dalam tujuan yang sama: membuat warisan tidak hanya diceritakan, tetapi kembali dilakukan. Hal itu menjadi penting terutama bagi generasi muda.

Tradisi akan sulit bertahan apabila hanya tersimpan dalam ingatan orang-orang terdahulu. Ia membutuhkan ruang untuk dilihat, disentuh, dimainkan dan diteruskan. Lomba perahu menyediakan ruang tersebut.

Anak-anak dan generasi muda dapat menyaksikan bagaimana sebuah perahu tradisional disiapkan, bagaimana puluhan orang bekerja sebagai satu tim, hingga bagaimana sungai yang membelah kawasan mereka memiliki hubungan panjang dengan kehidupan masyarakat.

Festival UFAH 2026 dengan demikian tidak hanya memindahkan tradisi ke atas panggung. Sebagian warisan itu justru dikembalikan ke tempat ia tumbuh, yakni Sungai Bahau. (ADV/ProkopimKutim/BK)

 

Redaksi

Redaksi

bacakaltim.com adalah portal berita digital yang berfokus pada menyajikan informasi terkini, tajam, dan terpercaya seputar Kalimantan Timur.

Next Post
Masuk 10 Daerah Termahal Bawang Putih, Kutim Tak Ingin Harga Lepas Kendali

Masuk 10 Daerah Termahal Bawang Putih, Kutim Tak Ingin Harga Lepas Kendali

Air Bersih Mengalir di Suka Rahmat, Langkah Awal Perluasan Layanan Dasar Warga

Air Bersih Mengalir di Suka Rahmat, Langkah Awal Perluasan Layanan Dasar Warga

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved