Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Pariwara Pemkab Kutai Timur

Sembilan Tarian, Satu Kisah Kehidupan Kayan di Festival UFAH

Ada syukur atas berkat, cerita kemenangan, kehidupan berladang, masa berkabung hingga doa tentang perdamaian dan kemakmuran. Semuanya dituturkan tanpa banyak kata melalui sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan. Di Festival Budaya UFAH 2026, Miau Baru kembali menghidupkan warisan leluhur sebagai cerita yang diteruskan kepada generasi berikutnya.

Redaksi by Redaksi
9 Agustus 2026
Reading Time: 4 mins read
0
Sembilan Tarian, Satu Kisah Kehidupan Kayan di Festival UFAH
Share on FacebookShare on WhatsApp

KONGBENG – Panggung Festival Budaya UFAH 2026 di Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Minggu (9/8/2026), menjadi ruang bagi masyarakat Kayan Umaq Lekan untuk kembali menuturkan perjalanan kehidupan mereka.

Bukan melalui lembaran buku atau cerita panjang, melainkan lewat gerak tubuh, irama, busana, topeng dan berbagai simbol yang telah diwariskan lintas generasi.

Sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan ditampilkan dalam festival tersebut. Masing-masing memiliki cerita berbeda, tetapi ketika dirangkai seluruhnya seperti membentuk satu perjalanan kehidupan.

Ada rasa syukur, keberanian, kegembiraan, kehidupan pertanian, duka, penghormatan kepada leluhur, perdamaian, persatuan hingga harapan akan kemakmuran.

Kesembilan tarian tersebut adalah Hudog Aruq atau Bateang Bu-eang, Hifan Sau, Hifan Seang, Jat Alat, Hudog Kitaq, Hudog Kuhau, Hudog Kap atau Kusap Nga-eang, Tingeang Urip atau Enggang serta Manuk Inuq.

Rangkaian dimulai dengan Hudog Aruq atau Bateang Bu-eang. Tarian ini menjadi ungkapan rasa syukur atas limpahan berkat yang diterima masyarakat selama satu musim.

Di dalamnya tergambar hubungan yang telah lama dibangun masyarakat Kayan dengan alam dan leluhur. Apa yang diperoleh dari kehidupan tidak semata diterima sebagai hasil kerja manusia, tetapi juga disyukuri melalui tradisi.

Dari syukur, cerita kemudian bergerak menuju keberanian.

Hifan Sau yang dibawakan kaum pria menggambarkan kegembiraan atas kemenangan di medan perang. Namun, seiring perubahan zaman, makna kemenangan tidak lagi terbatas pada peperangan.

Kemenangan dapat dimaknai sebagai keberhasilan melewati berbagai kesulitan dan persoalan kehidupan.

Hifan Sau memiliki pasangan dalam rangkaian tersebut, yakni Hifan Seang yang dibawakan kaum perempuan. Tarian ini juga mengekspresikan kegembiraan atas kemenangan dan lazim ditampilkan dalam rangkaian upacara adat seperti Mamat atau Lakin Ayau.

Kehadiran dua tarian tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana laki-laki dan perempuan hadir dalam satu rangkaian kehidupan sosial masyarakat Kayan.

Cerita berikutnya memasuki fase kehidupan setelah masa berkabung melalui Jat Alat.

Tarian ini berkaitan dengan pesta syukuran pascapanen Ka-uh Tupuh Duman Lebau. Momentum tersebut sekaligus menandai berakhirnya masa berkabung atau lumuh dan kembalinya masyarakat menjalani kehidupan normal.

Duka tidak dilupakan, tetapi kehidupan harus diteruskan.

Hubungan masyarakat Kayan dengan ladang kemudian hadir kuat melalui Hudog Kitaq.

Tarian tersebut merepresentasikan kehadiran dewi padi yang dipercaya berperan dalam pertumbuhan dan kesuburan tanaman. Padi dalam konteks ini bukan semata komoditas pangan, melainkan bagian dari kehidupan dan kebudayaan masyarakat.

Hubungan serupa ditemukan pada Hudog Kuhau. Tarian ini biasanya dibawakan setelah musim menugal atau ketika padi memasuki masa pertumbuhan dan membutuhkan perawatan.

Hudog Kuhau memiliki tujuan simbolis untuk menghalau hama dan penyakit tanaman. Di dalamnya tersimpan harapan agar ladang tumbuh baik dan memberikan hasil yang cukup bagi masyarakat.

Dua tarian tersebut menunjukkan bagaimana kebudayaan Kayan tumbuh berdampingan dengan pengetahuan tentang alam.

Tari, ritual, pertanian dan lingkungan tidak berjalan sendiri-sendiri. Semuanya bertemu dalam sebuah sistem pengetahuan yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya.

Namun, perjalanan hidup tidak hanya berisi panen dan kegembiraan.

Hudog Kap atau Kusap Nga-eang membawa suasana berbeda. Para penarinya menggunakan topeng dari kulit kayu trap sebagai tanda berkabung.

Tarian yang dibawakan sedikitnya 10 perempuan tersebut dapat ditampilkan ketika seorang pahlawan gugur maupun ketika terdapat warga yang meninggal dunia.

Kesedihan memperoleh ruangnya sendiri dalam adat. Orang yang telah pergi dihormati melalui tata cara dan simbol yang diwariskan masyarakat.

Selepas cerita tentang duka, Tingeang Urip atau Enggang membawa pesan mengenai kebesaran, kemuliaan, perdamaian dan persatuan.

Burung enggang memiliki kedudukan simbolis yang kuat dalam kebudayaan masyarakat Dayak. Melalui gerak tarian, nilai tersebut kembali disampaikan kepada masyarakat yang menyaksikan.

Pesan tentang persatuan itu terasa relevan ketika sebuah festival mempertemukan generasi tua dan muda dalam ruang yang sama. Tradisi tidak hanya dikenang oleh mereka yang mewarisinya langsung, tetapi diperkenalkan kembali kepada anak-anak yang kelak akan meneruskannya.

Rangkaian sembilan tarian kemudian ditutup dengan Manuk Inuq.

Tarian ini menggambarkan kehidupan yang makmur dan berlimpah. Sebuah penutup yang seolah merangkum harapan dari perjalanan panjang yang sebelumnya dituturkan.

Dari rasa syukur menuju keberanian. Dari kehidupan ladang menuju duka. Dari penghormatan terhadap mereka yang telah pergi menuju perdamaian, persatuan dan akhirnya kemakmuran.

Karena itu, sembilan tarian tersebut bukan sembilan pertunjukan yang berdiri sendiri.

Jika dibaca sebagai satu kesatuan, semuanya menjadi semacam cerita panjang mengenai cara masyarakat Kayan Umaq Lekan memahami kehidupan dan hubungannya dengan manusia lain, alam serta leluhur.

Festival Budaya UFAH menjadi salah satu ruang agar cerita itu tidak berhenti pada generasi terdahulu.

Miau Baru sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah di Kutim yang masih mempertahankan tradisi masyarakat Dayak Kayan. Jejak kebudayaan tersebut dapat ditemukan melalui kesenian, kerajinan, bangunan tradisional maupun berbagai aturan dan upacara adat yang masih dijalankan.

Di tengah perubahan zaman, tantangan terbesar kebudayaan bukan hanya bagaimana menyimpannya, tetapi bagaimana membuat generasi berikutnya mengenal, memahami dan bersedia meneruskannya.

Itulah yang membuat panggung Festival Budaya UFAH memiliki arti lebih luas daripada sebuah tontonan.

Ketika sembilan tarian kembali dimainkan, leluhur seperti menitipkan cerita kepada generasi hari ini. Tentang bersyukur ketika memperoleh berkat, bertahan menghadapi kesulitan, menghormati mereka yang telah pergi, menjaga alam dan tetap hidup dalam persatuan.

Di Miau Baru, cerita itu belum berhenti. Ia masih bergerak mengikuti langkah para penari, bertalu bersama musik tradisional dan berpindah perlahan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. (ADV/ProkopimKutim/BK)

 

Post Views: 398
Redaksi

Redaksi

bacakaltim.com adalah portal berita digital yang berfokus pada menyajikan informasi terkini, tajam, dan terpercaya seputar Kalimantan Timur.

Next Post
Budaya Berpesta, Rezeki Mengalir, Bu Long Raup Rp5 Juta Sehari

Budaya Berpesta, Rezeki Mengalir, Bu Long Raup Rp5 Juta Sehari

Setahun Bersama Rakyat, Brigif TP 32/Mangkalihat Berbagi Bakti di Bengalon

Setahun Bersama Rakyat, Brigif TP 32/Mangkalihat Berbagi Bakti di Bengalon

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Pariwara Pemkab Kutai Timur
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved