SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus memperkuat upaya pemenuhan hak dasar anak, terutama memperoleh pendidikan yang layak dan dapat diakses tanpa terkendala kondisi ekonomi maupun tempat tinggal.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman ketika membuka Talkshow “Sekolah Seru Mimpiku Melaju #AmandiSekolah” dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Ruang Akasia, Gedung Serba Guna (GSG) Bukit Pelangi, Sabtu (25/7/2026).
Di hadapan ratusan peserta, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi serta tamu undangan lainnya, Ardiansyah menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak harus diwujudkan melalui program yang benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
Salah satu langkah yang kini didorong Pemkab Kutim adalah program Wajib Belajar (Wajar) 13 Tahun. Melalui kebijakan tersebut, layanan pendidikan diarahkan berlangsung sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang pendidikan menengah.
Perhatian juga diberikan pada pemerataan akses pendidikan, termasuk bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kecamatan maupun perkotaan. Ardiansyah mengatakan pemerintah terus memperhatikan aspirasi yang disampaikan anak-anak terkait kebutuhan pendidikan di daerah.
“Kami mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan dan harapan anak-anak. Pemerintah tentu berkewajiban memberikan fasilitas agar mereka mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama. Saat ini, PAUD sudah tersedia di seluruh desa di Kutai Timur,” kata Ardiansyah.
Namun, keberadaan fasilitas pendidikan saja dinilai belum cukup. Peningkatan kompetensi tenaga pendidik juga menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki kualitas layanan pendidikan sejak usia dini.
Pemkab Kutim telah memfasilitasi pendidikan jenjang S1 bagi lebih dari 400 guru PAUD desa melalui kerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kelulusan angkatan pertama dari program tersebut dijadwalkan pada Agustus 2026. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus pengasuhan anak usia dini, terutama di wilayah perdesaan.
Di sisi lain, persoalan biaya perlengkapan sekolah yang kerap menjadi beban keluarga turut mendapat perhatian. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), pemerintah daerah menyalurkan berbagai bantuan kebutuhan sekolah, mulai pakaian dan seragam, sepatu, tas hingga buku dan perlengkapan belajar.
“Kebutuhan seperti pakaian, sepatu, buku dan tas kami bantu. Harapannya, persoalan biaya perlengkapan tidak lagi menjadi alasan anak berhenti atau tidak bersekolah. Kita ingin seluruh anak Kutai Timur mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan,” tegas Ardiansyah.
Pemenuhan hak anak juga diperluas di luar lingkungan sekolah. Pemkab Kutim mulai menyiapkan kajian dan rencana pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) ramah anak dan keluarga di kecamatan secara bertahap. Ruang publik tersebut diarahkan menjadi tempat yang aman dan sehat bagi anak untuk bermain, berinteraksi dan bersosialisasi bersama keluarga.
Komitmen itu juga diperkuat dengan penetapan Bupati Kutim dan Bunda PAUD sebagai Duta Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), yang membawa semangat penyediaan lingkungan tumbuh kembang anak yang lebih aman, sehat serta terlindung dari paparan asap rokok dan berbagai risiko lingkungan lainnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutim Idham Chalid mengatakan berbagai kebijakan tersebut akan terus diselaraskan dengan aspirasi yang dihimpun melalui Forum Anak Kutim.
Sejumlah isu yang menjadi perhatian anak antara lain kebutuhan transportasi sekolah di wilayah pelosok, akses terhadap jaringan internet yang aman, hingga kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pandangan dalam proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Dengan pendekatan yang menyentuh pendidikan sejak usia dini, peningkatan kualitas tenaga pengajar, bantuan perlengkapan belajar hingga penyediaan ruang publik ramah anak, Pemkab Kutim ingin memastikan pembangunan sumber daya manusia dimulai sejak anak-anak. Sebab, investasi pada pendidikan hari ini akan menentukan kualitas generasi Kutai Timur pada masa mendatang. (ADV/ProkopimKutim/BK)


