SANGATTA — Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam mempercepat penanganan stunting terus diperkuat. Salah satunya melalui pelaksanaan Kelas Balita Siklus II di Rumah Rehab Gizi (RRG) Stunting Kecamatan Sangatta Utara, Rabu (22/7/2026).
Mengangkat tema “Pertumbuhan dan Perkembangan Balita”, kegiatan tersebut diikuti delapan balita berusia 12 hingga 24 bulan bersama enam orang tua atau wali. Mereka menjadi bagian dari pendampingan intensif bagi anak yang mengalami maupun berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan masalah gizi.
Narasumber kegiatan, Auliya Ayuni, menjelaskan bahwa pendampingan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan nutrisi anak selama mengikuti program. Orang tua juga diberikan pengetahuan agar pola pengasuhan dan pemenuhan gizi yang sudah diterapkan di RRG dapat dilanjutkan secara konsisten di rumah.
“Harapannya, setelah selesai mengikuti pendampingan di Rumah Rehab Gizi, orang tua sudah memiliki bekal untuk melanjutkan pemantauan tumbuh kembang anak secara mandiri. Kami juga mengingatkan agar anak mengikuti pemberian Vitamin A dan obat cacing yang dijadwalkan pada Agustus di posyandu masing-masing,” jelas Auliya.
Selain edukasi mengenai pencegahan cacingan, orang tua dibimbing untuk memanfaatkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sebagai salah satu instrumen sederhana dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan buah hati.
Menurut Auliya, Kelas Balita sebenarnya telah menjadi agenda rutin di posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Teluk Lingga. Penyuluhan dan diskusi bersama orang tua dilakukan secara berkala. Namun, kehadiran RRG membuat intervensi terhadap anak yang membutuhkan perhatian khusus dapat dilakukan lebih intensif.
Hasil pelaksanaan Siklus II pun menunjukkan perkembangan menggembirakan. Durasi pendampingan yang sebelumnya lebih singkat kini diperpanjang menjadi sekitar 56 hingga 57 hari, disertai pemantauan pertumbuhan setiap pekan.
“Pada siklus kedua terlihat perubahan yang cukup baik. Ada anak yang mengalami peningkatan pertumbuhan fisik dan perkembangan sensorik. Kebiasaan makan dan waktu istirahat mereka juga mulai lebih teratur,” katanya.
Meski demikian, proses pendampingan masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketidakhadiran peserta, misalnya, dapat memengaruhi kesinambungan pemantauan. Anak-anak juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan RRG, terutama pada awal mengikuti program.
Kepala Puskesmas Teluk Lingga, drg. Sri Endrayati, mengatakan RRG dikembangkan menggunakan konsep penanganan terpadu atau comprehensive care. Penentuan sasaran dilakukan berdasarkan data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), kemudian diselaraskan dengan intervensi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal.
“RRG bukan hanya untuk anak yang sudah mengalami stunting. Balita dengan kondisi gizi kurang ataupun berat badan yang tidak mengalami kenaikan juga menjadi sasaran intervensi. Penanganannya melibatkan berbagai tenaga profesional, mulai dokter spesialis anak, dokter spesialis gizi, psikolog, tim gizi puskesmas hingga kader yang menyiapkan makanan,” terang Sri.
Konsep RRG dikembangkan setelah evaluasi terhadap pola pemberian makanan tambahan yang sebelumnya diantar langsung oleh kader ke rumah. Cara tersebut dinilai belum optimal karena konsumsi makanan anak sulit dipantau secara langsung.
Melalui RRG, anak mengikuti pendampingan sejak pagi hingga pukul 14.00 Wita. Selama berada di lokasi, kebutuhan makan dengan komposisi gizi seimbang diberikan sekaligus dipantau. Anak juga dibekali makanan bergizi untuk dikonsumsi pada sore hari di rumah.
Jika pada siklus pertama pendampingan hanya berlangsung 14 hari, hasil evaluasi bersama dokter spesialis anak kemudian menjadi dasar memperpanjang program menjadi 56 hari. Durasi tersebut dinilai memberikan kesempatan lebih besar untuk melihat perubahan berat badan maupun kondisi fisik anak secara terukur.
Program ini turut didukung Pemerintah Kecamatan Sangatta Utara, kader kesehatan, anggaran operasional Pemkab Kutim serta kontribusi dunia usaha, termasuk PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Pamapersada Nusantara (PAMA).
Siklus II RRG dijadwalkan berakhir pada penghujung Juli 2026. Pendampingan kemudian berlanjut melalui Siklus III pada Agustus hingga September. Dengan pola yang semakin terukur dan keterlibatan keluarga yang lebih kuat, RRG diharapkan menjadi salah satu ikhtiar nyata Kutim dalam memastikan anak-anak memperoleh kesempatan tumbuh sehat dan optimal. (ADV/ProkopimKutim/BK)


