SANGATTA — Pencegahan sering kali menjadi langkah paling sederhana, tetapi justru menentukan masa depan kesehatan seseorang. Dalam upaya menekan angka kanker serviks, vaksin Human Papillomavirus (HPV) kini menjadi salah satu instrumen penting yang terus didorong kepada masyarakat.
Hal tersebut disampaikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr Sandri, dalam kegiatan sosialisasi kanker leher rahim yang digelar di Aula Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Menurutnya, sebagian besar kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi virus HPV. Karena itu, pemberian vaksin menjadi bagian penting dalam membangun perlindungan sejak dini.
“Kalau hasil screening negatif, segera lanjutkan dengan vaksinasi HPV sebagai langkah pencegahan paling efektif dan murah,” ujarnya.
Dr Sandri menjelaskan, vaksin HPV telah direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan dinilai aman diberikan kepada anak-anak maupun perempuan usia subur.
“WHO menargetkan 90 persen anak laki-laki dan perempuan mendapatkan vaksin HPV,” katanya.
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta sempat mempertanyakan keamanan vaksin HPV bagi anak. Menanggapi hal tersebut, dr Sandri memastikan vaksin tersebut telah melalui berbagai kajian dan aman digunakan sesuai rekomendasi kesehatan.
“Vaksin HPV pada anak-anak aman dan sudah menjadi rekomendasi WHO,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pemberian vaksin HPV dilakukan melalui beberapa tahap dosis. Setelah dosis awal diberikan, penyuntikan berikutnya dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk membentuk perlindungan optimal.
“Setelah itu bisa booster lima sampai sepuluh tahun kemudian,” jelasnya.
Meski demikian, vaksinasi bukan satu-satunya langkah pencegahan. Menurut dr Sandri, pemeriksaan IVA Test dan pap smear tetap memiliki peran penting untuk mendeteksi adanya perubahan sel atau lesi prakanker sejak awal.
Sebab, apabila kelainan sudah berkembang menjadi kanker, maka penanganannya akan jauh lebih kompleks dibandingkan upaya pencegahan.
“Kalau sudah muncul gejala atau lesi prakanker, fokusnya bukan lagi pencegahan, tetapi pengobatan yang tentu jauh lebih mahal,” katanya.
Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan pemerintah daerah terus memperluas pelaksanaan pemeriksaan IVA Test melalui jaringan puskesmas di seluruh wilayah Kutim.
Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari agenda nasional untuk menurunkan angka kematian akibat kanker serviks.
“Program ini memang masuk program nasional untuk menurunkan angka kematian akibat kanker serviks,” ujarnya.
Sementara itu, dr Sandri berharap kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan dan vaksinasi HPV terus meningkat. Ia menargetkan dalam satu tahun ke depan cakupan pemeriksaan IVA Test dan vaksinasi HPV di Kutim dapat semakin luas.
“Kalau bisa satu tahun ke depan 100 persen wanita usia subur di Kutim sudah melakukan IVA Test, dan 75 persen sudah divaksin HPV,” pungkasnya.
Upaya pencegahan kanker serviks pada akhirnya tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga keberanian masyarakat mengambil langkah lebih awal.
Karena melindungi kesehatan perempuan bukan hanya tentang mengobati penyakit, melainkan memastikan risiko dapat dicegah sebelum menjadi ancaman. (ADV/ProkopimKutim/BK)


