Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Uncategorized

105 Kasus Suspek Campak Ditemukan di Kutai Timur, Dinkes Tingkatkan Kewaspadaan

WebNesia by WebNesia
11 Maret 2026
Reading Time: 2 mins read
0
105 Kasus Suspek Campak Ditemukan di Kutai Timur, Dinkes Tingkatkan Kewaspadaan
5
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsApp

SANGATTA – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur mengungkapkan adanya 105 kasus suspek campak yang ditemukan sejak awal Januari hingga minggu pertama Maret 2026. Temuan ini membuat pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi penyebaran penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, dr. Yuwana Sri Kurniawati, menjelaskan seluruh kasus tersebut masih berstatus suspek karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda.

“Kasus yang kita temukan saat ini masih suspek. Untuk memastikan apakah benar campak atau tidak, kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya.

Ia menambahkan, berdasarkan pemantauan Dinkes, kasus suspek campak hampir ditemukan di seluruh kecamatan di Kutai Timur. Namun jumlah terbanyak tercatat di Sangatta Utara, Teluk Pandan, dan Sangatta Selatan.

Menurut dr. Yuwana, campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus morbilli dan memiliki tingkat penularan yang sangat cepat. Virus tersebut dapat menyebar melalui percikan ludah ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara.

Gejala awal biasanya berupa demam, ruam kemerahan pada kulit, batuk, pilek, serta mata merah. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius.

“Campak tidak boleh dianggap remeh. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi telinga, pneumonia hingga radang selaput otak yang bisa berakibat fatal,” jelasnya.

Untuk mencegah penyebaran lebih luas, Dinas Kesehatan Kutai Timur telah menginstruksikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik hingga rumah sakit, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap kasus demam yang disertai ruam kulit.

Selain itu, pasien yang diduga terinfeksi campak juga dianjurkan melakukan isolasi sementara guna mencegah penularan kepada orang lain.

“Jika ada anak yang mengalami gejala campak, sebaiknya tidak dulu beraktivitas di luar rumah atau pergi ke sekolah sampai kondisinya membaik,” katanya.

Dinkes juga menekankan pentingnya imunisasi campak atau Measles Rubella (MR) sebagai upaya pencegahan utama. Saat ini cakupan imunisasi campak di Kutai Timur telah mencapai 88 persen, namun untuk dosis kedua masih sekitar 65 persen.

“Kami mengimbau para orang tua agar memastikan anaknya mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal. Jika belum, segera datang ke posyandu atau puskesmas terdekat,” pungkasnya.

WebNesia

WebNesia

Next Post
Pertumbuhan Ekonomi Kutim 2025 Melambat, Pemkab Akan Tinjau Kembali Data

Pertumbuhan Ekonomi Kutim 2025 Melambat, Pemkab Akan Tinjau Kembali Data

Pertumbuhan Ekonomi Kutai Timur Melambat pada 2025, Dipengaruhi Penurunan Sektor Pertambangan

Pertumbuhan Ekonomi Kutai Timur Melambat pada 2025, Dipengaruhi Penurunan Sektor Pertambangan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved