Baca Kaltim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini
No Result
View All Result
Baca Kaltim
No Result
View All Result
Home Pariwara Pemkab Kutai Timur

Laung Kuning: Menghidupi Tradisi, Menjaga Ada-Budaya

Ribuan warga Banjar memadati Kaubun dalam perayaan tradisi Laung Kuning, menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan identitas budaya melalui serangkaian ritual yang sarat makna.

Redaksi by Redaksi
5 November 2025
Reading Time: 2 mins read
0
Laung Kuning: Menghidupi Tradisi, Menjaga Ada-Budaya
367
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsApp
Post Views: 4

KAUBUN – Tradisi Laung Kuning kembali menggema di Kaubun, Kutai Timur. Ribuan warga Banjar dari berbagai penjuru Kalimantan berkumpul di Gedung Serba Guna (GSG) Desa Bumi Rapak dalam perayaan adat yang sarat makna. Acara ini menjadi momen penting untuk meneguhkan identitas, merawat warisan leluhur, dan menyalakan semangat kebersamaan melalui ritual Bapalas, Baparbaik, dan Tapung Tawar.

Di bawah panji organisasi budaya Laung Kuning Banjar, tradisi ini dihidupkan kembali dengan semangat tinggi. Pakaian adat serba kuning mendominasi ruangan, melambangkan kemuliaan, keberanian, dan keteguhan. Tema yang diusung, “Haram Manyarah Wala Sampai Kaputing,” berarti pantang menyerah sampai titik akhir, mencerminkan kekuatan budaya sebagai jangkar identitas dan perekat sosial.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan penyambutan tamu kehormatan secara adat Banjar di halaman GSG. Dengan iringan musik tradisional dan doa-doa, Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim) H. Mahyunadi hadir mewakili Bupati. Ia mengenakan ikat kepala Laung Kuning, atribut kehormatan budaya Banjar, dan mengikuti seluruh prosesi dengan khidmat.

“Acara ini menjadi bukti nyata cinta terhadap warisan budaya. Saya bangga dengan semangat masyarakat Banjar yang tetap menjaga tradisi ini,” ujar Mahyunadi dalam sambutannya. Ia percaya bahwa melestarikan budaya seperti ini akan memperkuat ikatan sosial dan membangun bangsa yang tangguh dan berkarakter.

Selama prosesi, sebuah simbol penting diserahkan kepada Wabup, yaitu sebilah parang Lais. Benda ini melambangkan kepercayaan, restu, dan kekuatan spiritual yang diwariskan dari tokoh adat kepada pemimpin.

Puncak acara dimulai di bawah tuntunan Abah Guru Muhammad Rusli dengan ritual Tapung Tawar. Air suci dipercikkan ke arah peserta, dibarengi doa dan lantunan shalawat. Tradisi ini diyakini sebagai pembersih jiwa, penolak bala, dan pengundang keberkahan dalam hidup bermasyarakat.

Ketua Umum Laung Kuning Banjar, Abdul Somad, mengungkapkan rasa harunya atas semangat warga yang datang dari berbagai daerah, termasuk Samarinda dan Balikpapan.

“Ini adalah bukti kekompakan masyarakat Banjar. Kita bersatu untuk menjaga adat, seni, dan jati diri budaya kita,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa warisan budaya ini adalah identitas dan kekuatan. Melalui kegiatan seperti ini, “bubuhan” (warga) Banjar mewariskannya dengan hormat kepada generasi mendatang. Acara ini mencerminkan masa depan, di mana generasi muda menjadi saksi dan pewaris tradisi.

Organisasi Laung Kuning Banjar berkomitmen untuk menjadi ruang inklusif, menjaga adat, dan menyatukan warga Banjar lintas wilayah dan generasi. Dalam suasana semarak dan bermakna, ritual demi ritual dijalani dengan khusyuk, menandai keteguhan komunitas dalam menjaga warisan yang tak ternilai.

Di Kaubun, pada hari itu, tradisi hadir sebagai simbol semangat dan kebersamaan. Dalam setiap ritual, terpatri pesan bahwa masyarakat Banjar akan terus bersatu dan tidak kehilangan arah. Tradisi hidup karena dijalani. Budaya bertahan karena dicintai. Laung Kuning adalah bukti bahwa di balik pakaian kuning dan ritual sakral, ada cinta yang mengakar, keyakinan yang menjulang, dan harapan yang terus menyala untuk tanah, leluhur, dan masa depan. (ADV/ProkopimKutim/BK)

Redaksi

Redaksi

Next Post
RSUD Kudungga Luncurkan Layanan Bedah Saraf Modern: Sejarah Baru untuk Kalimantan Timur

RSUD Kudungga Luncurkan Layanan Bedah Saraf Modern: Sejarah Baru untuk Kalimantan Timur

Membumikan Al-Qur’an, 61 Guru di Kutim Ikuti Pelatihan Metode Ummi

Membumikan Al-Qur’an, 61 Guru di Kutim Ikuti Pelatihan Metode Ummi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Kaltim

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved

Navigate Site

  • Beranda
  • Info Iklan
  • Kontak Kami
  • Login Customizer
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Kaltim Terkini
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi Bisnis
  • Lingkungan dan Energi
  • Lainnya
    • Budaya dan Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Opini

© 2024-2026 Baca Kaltim - All rights reserved