BENGALON – Bupati Kutai Timur, H. Ardiansyah Sulaiman, melakukan kunjungan ke lokasi peluncuran paralayang di Bukit Dusun Mampang, Desa Sekerat, baru-baru ini. Dalam kesempatan tersebut, beliau mendengarkan aspirasi dari para atlet paralayang dan komunitas wisata dirgantara Kutim yang memiliki visi menjadikan Sekerat sebagai pusat wisata udara bertaraf nasional dan internasional.
Dalam pertemuan yang berlangsung akrab di tepi pantai, Arman Mando, perwakilan dari Tim Terpadu Wisata Dirgantara Sekerat, mengemukakan beberapa kebutuhan mendesak agar Bukit Mampang memenuhi standar nasional untuk paralayang.
“Akses jalan yang lebih baik menuju titik take off dan fasilitas landasan yang sesuai standar adalah hal yang krusial. Ketinggian ideal untuk paralayang nasional adalah 250 meter, sementara untuk level internasional mencapai 350 meter,” jelas Arman di hadapan Bupati.
Tak hanya itu, komunitas paralayang juga mengusulkan pendirian sekolah pilot paralayang di Desa Sekerat. Tujuannya bukan hanya untuk menghasilkan atlet berkualitas, tetapi juga memberdayakan warga lokal dengan keterampilan yang dapat membuka peluang ekonomi baru di sektor wisata petualangan.
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Ardiansyah Sulaiman menyatakan dukungan penuh dan komitmen untuk merealisasikan usulan para atlet.
“Potensi Sekerat sangat mengesankan. Dengan keindahan alam dan posisi geografis yang mendukung, olahraga paralayang sangat layak untuk dikembangkan di sini. Kami akan mempelajari semua usulan dari rekan-rekan atlet dan berkomitmen untuk mendukung impian mereka,” ungkapnya.
Bupati juga menegaskan bahwa jika semua fasilitas dapat diwujudkan, Sekerat berpeluang untuk menjadi pusat paralayang di kawasan timur Indonesia, sebanding dengan Kota Batu di Jawa Timur.
“Dengan dukungan fasilitas yang memadai, saya yakin Sekerat bisa menjadi destinasi paralayang terfavorit di Indonesia,” tambahnya.
Festival Sekerat tahun ini menjadi momentum bersejarah, di mana wahana paralayang resmi dibuka untuk umum setelah melalui tiga kali uji kelayakan oleh atlet profesional, termasuk Ike Ayu Wulandari dari Malang dan Ali Musa, pilot lokal Kutim.
“Alhamdulillah, area take off sudah layak. Verifikasi bersama para senior menunjukkan hasil yang sangat memuaskan,” ujar Arman Amar, anggota tim teknis paralayang.
Kegiatan paralayang berlangsung dari 23 hingga 26 Oktober 2025, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terbang tandem dengan biaya Rp400 ribu per orang, durasi 5 hingga 7 menit, dengan batas berat badan 25 hingga 90 kilogram. Panitia juga menyediakan layanan ojek gratis menuju titik take off.
Pemandangan dari ketinggian sungguh menakjubkan: pantai, sawah, dan matahari terbenam berpadu dalam panorama yang memukau. Namun, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, seperti perbaikan akses jalan, pembangunan shelter, dan pengamanan area.
Festival Sekerat kini bukan hanya sekadar panggung budaya pesisir, tetapi juga menjadi gerbang menuju wisata petualangan dirgantara Kutai Timur. Dengan kolaborasi antara pemerintah, komunitas olahraga, dan masyarakat, Sekerat mulai menegaskan posisinya sebagai ikon wisata langit Kalimantan Timur.
Impian untuk menjadikan Sekerat sebagai Pusat Wisata Paralayang Nasional semakin mendekati kenyataan. Saat parasut mengembang dan angin mengangkat para pilot ke udara, semangat baru Kutim pun ikut terbang tinggi menembus awan, menatap masa depan yang cerah. (ADV/ProkopimKutim/BK)


